Thursday, November 8, 2018

Ilmu Sosial Dasar Tugas 2


Kelompok 7:
1.     Bherlian Nanda Imawan                NPM : 51418417
2.     Dinda Yuniar Dwi Putrie               NPM : 52418027
3.     Mochamad Fauzan Lapadengan    NPM : 54418166
4.     Rizki Abiyuza                                NPM : 56418281

RASISME


Rasisme adalah suatu sistem kepercayaan atau doktrin yang menyatakan bahwa perbedaan biologis yang melekat pada ras manusia menentukan pencapaian budaya atau individu – bahwa suatu ras tertentu lebih superior dan memiliki hak untuk mengatur ras yang lainnya [1].

Beberapa penulis menggunakan istilah rasisme untuk merujuk pada preferensi terhadap kelompok etnis tertentu sendiri (etnosentrisme), ketakutan terhadap orang asing (xenofobia), penolakan terhadap hubungan antar ras (miscegenation), dan generalisasi terhadap suatu kelompok orang tertentu (stereotipe)

Rasisme telah menjadi faktor pendorong diskriminasi sosial, segregasi dan kekerasan rasial, termasuk genosida. Politisi sering menggunakan isu rasial untuk memenangkan suara. Istilah rasis telah digunakan dengan konotasi buruk paling tidak sejak 1940-an, dan identifikasi suatu kelompok atau orang sebagai rasis sering bersifat kontroversial. Berikut adalah contoh kasus rasisme yang terjadi di Indonesia.


'Mereka tidak menerima kos untuk anak Papua'

Benediktus Fatubun, mahasiswa berusia 23 tahun asal Papua, terus berjalan dari satu rumah ke rumah yang lain. Dia selalu berhenti di setiap rumah yang memasang tulisan ‘Menerima Kos Putra’ atau ‘Masih Ada Kamar Kosong’ di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Namun setiap ia mengetuk pintu, sang pemilik rumah selalu mengatakan kamar kos sudah penuh atau sudah tidak menerima kos.
Mahasiswa yang biasa dipanggil Benfa ini tidak tahu pasti apa penyebabnya. Yang jelas dia yang sudah diterima menjadi mahasiswa di salah satu perguruan tinggi sampai sebulan tidak juga mendapatkan tempat kos.
Belakangan Benfa tahu, penolakan itu lantaran dia orang Papua. “Ada yang bilang, tidak menerima kos untuk anak Papua,” ceritanya, Jumat (01/07).
Ini tidak hanya terjadi pada Benfa. “Saya juga ditolak gara-gara saya orang Papua,” kata Ruben Frasa (26), mahasiswa semester akhir salah satu kampus swasta di Yogyakarta.
Suatu hari, pelajar Papua yang lain diminta pergi dari halaman kampus oleh seorang dosen. Mahasiswi yang sedang duduk sambil merajut Noken itu dihampiri diminta pergi karena 'dia orang Papua'. Testimoni mahasiswi yang tak ingin disebut namanya ini lantas dibagikan dalam sebuah unggahan Facebook, memicu perbincangan di dunia maya.

“Sampai sekarang, perlakuan diskriminatif dan rasis masih sering kami terima,” ujar Aris Yeimo (30), Ketua Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Papua di Yogyakarta, seperti yang dilaporkan wartawan lokal Yaya Ulya, Minggu (03/07).
Perbedaan perlakuan terhadap orang Papua tidak hanya terjadi di Yogyakarta tetapi juga di beberapa daerah lain termasuk di Jakarta.
'Susah bayar'
Lalu, mengapa diskriminasi itu terjadi?
Salah satu yang berperan besar adalah pandangan umum yang menganggap orang Papua sering mabuk, suka melanggar peraturan, dan suka berkelahi. “Karena kenyataannya seperti itu,” kata Pedro Indharto (33), warga asli Yogyakarta.
Warga Yogyakarta lainnya, Sukma Indah Permana (28) mengaku kerap melihat orang Papua yang tidak patuh aturan lalu lintas, bahkan mereka kadang tiga orang naik motor tanpa memakai helm. “Aku sering lihat, loh,” katanya.
Mereka mengakui tidak semua orang Papua seperti itu dan mengatakan banyak orang Papua berperilaku baik. Tetapi, ulah sebagian orang membuat stigma negatif menempel kuat.
Seorang pemilik kos-kosan yang ditanya mengapa dia tidak mau menerima orang Papua mengatakan dirinya memiliki pengalaman buruk.
“Susah bayar, suka bikin gaduh suasana kos apalagi kalau pas mabuk,” kata Nugroho (28), pengelola kos-kosan di Depok, Sleman. Sebagai pemilik bisnis, dia menginginkan pemasukan keuangan lancar dan tertib, sehingga mengaku "malas berususan dengan Papua karena tidak tertib dalam membayar".
Perilaku segelintir orang Papua menjadi sebuah sterotipe di Yogyakarta, kata Aris Yeimo. "Biasanya (yang suka mabuk) adalah anak muda Papua yang baru datang karena ada emosi (budaya) yang terbawa dari Papua," katanya.
Orang Papua yang tinggal di tempat dingin seperti di pegunungan, kata Aris, biasanya butuh penghangat sehingga terbiasa minum produk lokal untuk menghangatkan - sehingga ketika berada di Yogyakarta, perlu waktu untuk beradaptasi.
“Tapi kalau bikin onar dan makan tidak mau membayar, itu hanya beberapa orang, tidak semua. Jadi jangan digeneralisir,” imbuhnya.

Pengaruh Cyberbullying di Media Sosial Terhadap Kepribadian Korban
Di era globalisasi ini, hampir tidak ada orang yang tidak memiliki sosial media. Selain memiliki banyak manfaat seperti untuk sarana hiburan dan pekerjaan, hal yang tak luput dari penggunaaan sosial media tersebut adalah cyberbullying. Dalam halaman ini saya akan menjelaskan hubungan cyberbullying di media sosial terhadap kepribadian korban.
A.     Media Sosial

1)      Pengertian media sosial
 Berikut ini adalah pengertian media sosial menurut para ahli :



1. Philip Kotler dan Kevin Keller         
Menurut Philip dan Kevin Keller pengertian media sosial adalah sarana bagi konsumen untuk berbagai informasi teks, gambar, video, dan audio dengan satu sama lain dan dengan perusahaan dan sebaliknya.

2. Marjorie Clayman    
Menurut Marjorie Clayman pengertian media sosial adalah alat pemasaran baru yang memungkinkan untuk mengetahui pelanggan dan calon pelanggan dengan cara yang sebelumnya tidak mungkin.    

3. Chris Brogan            
Menurut Chris Brogan pengertian media sosial adalah seperangkat alat komunikasi dan kolaborasi baru yang memungkinkan terjadinya berbagai jenis interaksi yang sebelumnya tidak tersedia bagi orang awam.

4. M. Terry       
Menurut M. Terry definisi media sosial adalah suatu media komunikasi dimana pengguna dapat mengisi kontennya secara bersama dan menggunakan teknologi penyiaran berbasis internet yang berbeda dari media cetak dan media siaran tradisional.        

5. Andreas M. Kaplan dan Michael Haenlien   
Menurut Andreas M. Kaplan dan Michael Haenlien pengertian media sosial adalah kelompok aplikasi berbasis Internet yang dibangun dengan dasar-dasar ideologis Web 2.0 (yang merupakan platform dari evolusi media sosial) yang memungkinkan terjadinya penciptaan dan pertukaran dari User Generated Content.


2)      Fungsi Media Sosial
Setelah memahami pengertian media sosial dan karakteristiknya, tentunya kita juga perlu tahu apa saja fungsinya. Berikut ini adalah beberapa fungsi media sosial secara umum:
a.       Memperluas interaksi sosial manusia dengan memanfaatkan teknologi internet dan website.
b.      Menciptakan komunikasi dialogis antara banyak audiens (many to many).
c.       Melakukan transformasi manusia yang dulunya pemakai isi pesan berubah menjadi pesan itu sendiri.
d.      Membangun personal branding bagi para pengusaha ataupun tokoh masyarakat.
e.       Sebagai media komunikasi antara pengusaha ataupun tokoh masyarakat dengan para pengguna media sosial lainnya.

B.     Cyberbullying

1)      Pengertian Cyberbullying
Cyberbullying adalah kekerasan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang yang menggunakan bantuan alat elektronik yang di lakukan secara berulang kali atau terus menerus pada seseorang yang sulit membela dirinya. (Smith dkk., 2008; dalam Alamsyah, 2013)

2)      Aspek-aspek Cyberbullying

Ø Bentuk-bentuk praktek cyberbullying yang sering dilakukan antara lain:

1. Mengirimkan email dan sms yang berisikan cacian dan hinaan.

2. Menyebarkan gossip atau berita buruk yang tidak menyenangkan melalui jejaring sosial berupa komentar, gambar dan status yang dibuat.
3. Menggugah atau membeberkan beberapa identitas target tanpa ijin.
4. Mengunggah video yang memalukan yang bisa di akses semua orang.


Ø Willard (2007; dalam Sylmia, 2012) menyebutkan macam-macam jenis cyberbullying sebagai berikut:        

1. Flaming (terbakar): yaitu mengirimkan pesan teks yang isinya merupakan kata-kata yang penuh amarah dan frontal. Istilah “flame” ini pun merujuk pada kata-kata di pesan yang berapi-api.       

2. Harassment (gangguan): pesan-pesan yang berisi gangguan yang menggunakan email, sms, maupun pesan teks di jejaring sosial dilakukan secara terus menerus.
3. Denigration (pencemaran nama baik): yaitu proses mengumbar keburukan seseorang di internet dengan maksud merusak reputasi dan nama baik orang tersebut.
4. Impersonation (peniruan): berpura-pura menjadi orang lain dan mengirimkan pesan-pesan atau status yang tidak baik.       
Outing: menyebarkan rahasia orang lain, atau foto-foto pribadi orang lain
5. Trickery (tipu daya): membujuk seseorang dengan tipu daya agar mendapatkan rahasia atau foto pribadi orang tersebut.        



6. Exclusion (pengeluaran) : secara sengaja dan kejam mengeluarkan seseorang dari grup online.

7. Cyberstalking: mengganggu dan mencemarkan nama baik seseorang secara intens sehingga membuat ketakutan besar pada orang tersebut.

Alat yang di gunakan untuk melakukan cyber bullying menurut Sheri Bauman (2008; dalam Sylmia, 2012) yaitu Instant Message (IM), Chatroom, Trash Polling Site, Blog, Bluetooth bullying, dan situs-situs jejaring sosial.  



Bhat (2008; dalam Sylmia, 2012) dalam Australian Journal of Guidance & Counselling menyebutkan salah satu alat cyberbullying adalah mobile phone. Fitur yang digunakan dalam mengintimidasi adalah mengirimkan pesan teks atau sms, gambar, ataupun video yang mengganggu korban.

C.     Ruang Lingkup Ilmu Sosial

Ilmu sosial dasar mencakup masalah-masalah sosial yang timbul didalam sebuah masyarakat. Untuk menelaah masalah-masalah sosial tersebut hendaknya terlebih dahulu dapat mengidentifikasi kenyataan-kenyataan sosial dan memahami sejumlah konsep sosial tersebut. Sehingga ilmu sosial dasar dapat dibedakan atas tiga golongan besar yaitu :
1.      Kenyataan-kenyataan sosial yang ada didalam masyarakat, yang secara bersama-sama merupakan masalah sosial tertentu.
2.      Konsep-konsep sosial atau pengertian-pengertian tentang kenyataan-kenyataan sosial dibatasi pada konsep dasar atau elementer saja yang sangat diperlukan untuk mempelajari masalah-masalah sosial yang dibahas pada ilmu sosial.
3.      Masalah-masalah sosial yang timbul dalam masyarakat, biasanya terlibat dalam berbagai kenyataan-kenyataan sosial yang satu dengan yang lainnya saling berkaitan satu sama lain.
Ilmu sosial dasar terdiri dari 8 (delapan) pokok pembahasan. Dari kedelapan pokok pembahasan tersebut maka ruang lingkup perkuliahan Ilmu Sosial Dasar diharapkan mempelajari dan memahami adanya :
1.      Berbagai masalah kependudukan dalam hubunganya dengan pengembangan masyarakat dan kebudayaan.
2.      Masalah Individu, keluarga dan masyarakat.
3.      Masalah pemuda dan sosialisasi.
4.      Masalah hubungan antara Warga Negara dan Negara.
5.      Masalah pelapisan sosial dan kesamaan derajat.
6.      Masalah masyarakat perkotaan dan masalah pedesaan.
7.      Masalah pertentangan-pertentangan sosial dan integrasi.
8.      Pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi bagi kemakmuran dan keserjahteraan.

D.     Kaitan Cyberbullying di Media Sosial dengan Ruang Lingkup Ilmu Sosial

     Dalam hal keseharian ada yang dinamakan ruang lingkup ilmu sosial (seperti yang telah dijelaskan diatas). Tanpa kita sadari, di era globalisasi ini teknologi telah berkembang sangat pesat dan sangat memungkinkan terjadinya masalah – masalah yang berkaitan dengan ruang lingkup ilmu sosial.
     Cyberbullying di media sosial merupakan salah satu permasalah di bidang teknologi yang terjadi di era globalisasi ini. Hal ini merupakan salah satu dampak negatif globalisasi dan adanya teknologi. Cyberbullying banyak terjadi dikalangan remaja. Hal yang mendasari seseorang untuk membully biasanya dikarenakan iri, tidak suka terhadap orang tersebut, atau pelampiasan dendam yang disebabkan oleh orang tersebut maupun orang lain.

E.     Kaitan Cyberbullying di Media Sosial dengan Teknologi
Dalam era globalisasi ini, sangat memungkinkan terjadinya  interaksi tanpa batas. Selain itu, di era ini, teknologi semakin canggih dan berekembang dengan pesat. Sehingga mendorong setiap orang untuk mengikuti perkembangan teknologi tersebut, salah satunya dengan menggunakan sosial media.
Terjadinya kebebasan dalam  berinteraksi ini menjadikan beberapa orang melewati “batas” sehingga malah menyalahgunakan sosial media tersebut. Salah satu contoh  penyalahgunaan sosial media ini adalah Cyberbullying. Dengan teknologi yang amat canggih, cyberbullying tersebut bisa dilakukan dengan berbagai macam cara seperti yang telah disebutkan di atas.
Selain itu, Hal ini dimungkinkan karena di internet semua orang bisa “menyembunyikan” identitasnya, sehingga mereka dengan mudah mencaci maki tanpa merasa bersalah.
Hal yang menjadi penyebab terjadinya cyberbullying diantaranya, seperti:
1.      Selalu membandingkan orang yang satu dengan orang yang lain dan membuat standar kesempurnaan untuk orang lain.
2.      Selalu ingin mencari-cari kesalahan orang lain, lalu memberikan komentar yang kasar.
3.      Mengajak orang lain untuk melakukan cyberbullying.

Analisis kasus
Berdasarkan survei IPSOS di 24 Negara termasuk Indonesia, didapati bahwa, satu dari sepuluh atau sekitar 12% orang tua melaporkan bahwa anak mereka mengalami bullying, sekitar 60% menyatakan alat yang digunakan ialah Facebook.
Dilansir dari laman Science Daily, sebuah penelitian yang dipimpin oleh Profesor Ann John dari Swansea University Medical School, yang bekerja sama dengan para peneliti dari Oxford University dan Birmingham University, melakukan penelitian pada 150.000 anak muda di 30 negara.           Penelitian tersebut menyoroti bahaya cyberbullying, baik pada pelaku dan korban, yang biasanya terjadi pada anak-anak muda di bawah 25 tahun.
Hasil penelitian yang dimuat dalam Journal of Medical Internet Research, menyatakan bahwa anak-anak muda yang menjadi korban kekerasan di media sosial lebih rentan untuk menyakiti diri sendiri hingga melakukan aksi bunuh diri. Sementara mereka yang berperan sebagai pelaku, 20 persen berisiko lebih tinggi memiliki pikiran untuk bunuh diri bahkan mencoba melakukan bunuh diri. Sebagian besar anak-anak muda yang menjadi pelaku dan korban penindasan di media sosial, tidak benar-benar mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Hal ini dijelaskan oleh Paul Montgomery, seorang profesor dari Birmingham University, bahwa orang-orang yang terlibat dalam kasus kekerasan di media sosial pada dasarnya memiliki masalah traumatis yang hampir sama. Itu yang biasanya memotivasi para pelaku tindak kekerasan di dunia maya.
Berikut contoh korban akibat cyberbullying :
1.      Megan Taylor Meier 
Perempuan yang tinggal di  Missouri, Amerika Serikat ini mengakhiri hidupnya dengan cara tragis, yakni bunuh diri dengan gantung diri beberapa minggu sebelum hari ulang tahunnya. Setelah diselidiki, polisi menemukan bukti bahwa Megan stres setelah mengalami cyberbullying lewat sosial media oleh temannya.



2.      Phoebe Prince           
Perempuan cantik yang baru pindah dari Irlandia ke Massachusetts, Amerika Serikat ini juga adalah contoh sisi kelam sosial media. Kisah kematian perempuan cantik berusia 15 tahun diduga juga karena dibully oleh temannya.



3.      Amanda Todd          
Remaja 15 tahun memposting video YouTube tentang tindakan bully yang dialaminya sebelum ia ditemukan tewas di rumahnya, Kanada. Ia telah menerima perlakukan cyberbullying (pelecehan di dunia maya) selama 3 tahun.



4.      Katie Webb  
Perempuan berusia 12 tahun ini tewas karena gantung diri di rumahnya di Evesham, Worcestershire, Inggris. Menurut petugas, tak ada tanda-tanda yang mencurigakan dengan kematian gadis ini.        
Namun dalam penyelidikan terungkap, dari teman-temannya diketahui, Katie menjadi bulan-bulanan di media sosial karena gaya rambut dan pakaiannya yang tidak bermerk.
           
Dari contoh kasus yang telah dipaparkan diatas, dapat disimpulkan dampak paling buruk dari cyberbullying adalah bunuh diri. Hal ini berarti bahwa cyberbullying dapat  menyerang psikologis dan kesehatan mental si korbannya. Seperti sedih, marah, minder, rendah diri, malu, dan takut. Efek dari cyberbullying ini akan bertahan dan membekas dalam jangka panjang, sehingga akan menyebabkan depresi bahkan sampai kemungkinan terburuknya, yaitu bunuh diri.
F.      Pembagian Generasi

Dunia ini semakin canggih dengan perkembangan teknologi yang berjalan cepat. Setiap perkembangan dan seiring berjalannya waktu, terbentuk satu generasi baru yang tentu saja memiliki pola pikir dan karakter yang berbeda oleh karena berbagai faktor sehingga membentuk kepribadian dan bahkan paradigma tersendiri.

1.      Baby Boomers (Lahir Pada Rentang Tahun < 1960)

Generasi ini terlahir pada masa-masa dimana berbagai perang telah berakhir sehingga perlu penataan ulang kehidupan dan banyak keluarga yang memiliki banyak anak. Di samping itu, perekonomian dan pertumbuhan penduduk sedang mulai meningkat. Adat istiadat masih dipegang teguh dan bahasa slank belum berkembang. Orang-orang pada masa itu masih cenderung “kolot” dan sangat matang dalam pengambilan keputusan.

a.      Karakteristik Khusus

 

·         Anti peperangan
·         Anti pemerintah
·         Menganggap bahwa tak ada yang tak mungkin
·         Menjunjung kesetaraan hak dan kesempatan
·         Sangat setia kepada keluarga (terutama anak-anak)
·         Dapat mempengaruhi orang lain
·         Optimis dan ambisius
·         Fokus pada pengembangan diri
·         Memiliki rasa ingin tahu yang tinggi
·         Berorientasi pada kelompok

b.      Lingkungan Kerja yang Disukai

 

·         Hierarki perusahaan cenderung datar
·         Demokratis
·         Memberikan kesempatan yang sama pada para pekerjanya
·         Suasana hangat dan ramah di kantor

c.       Kewajiban Kerja

 

·         Mengharapkan semua pekerja menjadi workaholics
·         Tidak menyukai konflik
·         Tak suka dengan perubahan
·         Cenderung menghakimi saat merasa sependapat dengan rekan kerja
·         Selfcentered

d.      Etika Dalam Bekerja

 

·         Dapat bekerja lebih keras saat mendapatkan motivasi
·         Pekerja keras
·         Memiliki daya tahan kerja yang baik demi mengembangkan diri
·         Mementingkan kualitas dalam bekerja
·         Mementingkan efisiensi kerja

e.       Komunikasi

 

·         Suka berbicara ’empat mata’ dibandingkan melalui telepon atau email
·         Saat ditanya akan menjawab seperlunya dan berharap ditanya lebih lanjut
·         Tidak suka dengan manipulasi bahasa dan diplomatis
Generasi Baby Boomers cenderung tidak suka menerima kritik. Uang dan pengakuan dari lingkungan adalah target mereka. Gengsi menjadi urutan pertama dalam kehidupan sosial.
Pandangan akan pekerjaan dan kehidupan pribadi para Baby Boomers tidak seimbang, dimana generasi ini menganggap bahwa hidup untuk bekerja. Namun demikian, loyalitas dan dedikasi dalam bekerja menjadi poin positif bagi Baby Boomers.

2.      Generasi X (Tahun Kelahiran 1961-1980)

Generasi ini cenderung suka akan risiko dan pengambilan keputusan yang matang akibat dari pola asuh dari generasi sebelumnya, Baby Boomers. Generasi ini terlahir pada masa-masa adanya gejolak dan transisi serta menyaksikan berbagai konflik global seperti Perang Dingin, Perang Vietnam, jatuhnya Tembok Berlin. Generasi ini cenderung lebih toleran, menerima berbagai perbedaan yang ada. Selain itu, dari segi teknologi informasi, generasi ini mulai mengenal yang namanya komputer sehingga generasi ini mulai berpikir secara inovatif untuk mempermudah kehidupan manusia.

a.      Karakteristik Khusus

 

·         Mandiri
·         Pragmatis
·         Mementingkan kesinambungan
·         Menyenangkan
·         Berpikiran luas
·         Suka dengan keragaman
·         Memiliki jiwa pengusaha
·         Memiliki ekspektasi kerja tinggi
·         Lebih menyukai pekerjaan yang tidak formal
·         Cenderung skeptis

b.      Lingkungan Kerja yang Disukai

 

·         Suasana kantor yang tidak kaku
·         Jenjang karier yang jelas dan cepat
·         Suasana kantor dengan cara kerja yang efisien dan fleksibel
·         Informasi yang jelas mengenai hal-hal yang berkaitan dengan manajemen perusahaan

c.       Kewajiban Kerja

 

·Tidak menyukai kekuasaan dari pihak tertentu
·Tidak suka dengan persyaratan kerja yang kaku
·Tidak sabar, sinis, menolak aturan
·Tidak memiliki prospek jangka panjang

d.      Etika Dalam Bekerja

 

·         Skeptis, mandiri
·         Bekerja pintar – efisiensi cara dan waktu – dengan hasil yang bagus
·         Menyukai struktur yang jelas dalam perusahaan
·         Meminimalisir pekerjaan

e.       Komunikasi

 

·Tidak suka berbasa-basi
·Daripada penjelasan melalui personal chat, generasi ini lebih suka melalui email
·Cara berkomunikasi yang informal
·Suka berbicara lugas dan langsung pada inti pembicaraan
Generasi X sangat terbuka dengan kritik dan saran agar lebih efisien dalam bekerja. Pandangan mereka adalah bekerja untuk hidup, bukan hidup untuk bekerja sehingga kehidupan antara pekerjaan, pribadi, dan keluarga cenderung seimbang.

3.      Generasi Y – Generasi Millennial (Tahun Kelahiran 1981-1994)

Di era ini, selain komputer sudah menjamur, ditambah lagi dengan berkembangnya video gamesgadgetsmartphones, dan setiap kemudahan akan fasilitas berbasis computerized yang ditawarkan serta kecanggihan internet, membuat Generasi Y menjadi suatu generasi yang mudah mendapatkan informasi secara cepat.
Pola pikir dan karakter generasi ini dapat dikatakan generasi penuh ide-ide visioner dan inovatif untuk melahirkan generasi yang memiliki pengetahuan dan penguasaan IPTEK. Bagi Anda yang saat ini menginjak usia 20-30 tahun, tentunya Anda adalah Generasi Y dan kini sedang dalam masa akhir perkuliahan dan memasuki dunia kerja. Manfaatkan usia Anda untuk segera memiliki perencanaan keuangan yang mapan sebagai persiapan menuju usia 30 an.

a.      Karakteristik Khusus

 

·         Realistis
·         Disiplin
·         Mementingkan prestasi kerja
·         Penuh keinginan
·         Memiliki kepercayaan diri yang baik
·         Memanfaatkan teknologi
·         Suka dengan perbedaan
·         Memiliki toleransi yang tinggi

b.      Lingkungan Kerja yang Disukai

 

·         Suasana kerja yang kekeluargaan
·         Fleksibilitas
·         Selalu memberikan tantangan baru
·         Kolaborasi antara rekan kerja yang baik

c.       Kewajiban Kerja

 

·         Pekerja keras
·         Berekpektasi tinggi
·         Mematuhi deadline
·         Membutuhkan struktur yang jelas dalam bekerja
·         Berorientasi pada cara kerja
·         Lembur bukan masalah besar
·         Tempat kerja adalah rumah kedua

d.      Etika Dalam Bekerja

 

·Ambisius dan multitasking
·Selalu mencari tantangan
·Suka membangun usaha sendiri
·Giat dan ulet bekerja

e.       Komunikasi

 

·         Ketika hal yang diperbincangkan sangat serius, lebih baik bicara empat mata walaupun diawali dengan chat personal
·         Meski sopan, namun tidak suka dengan pembicaraan dengan gaya serius
·         Menyapa lebih dulu
Generasi Y cenderung bertanya dan meminta kritik serta saran untuk kemajuannya. Mereka menganggap bahwa rewards terbaik adalah perasaan ketika pekerjaannya dinilai berarti bagi hal-hal tertentu.
Keseimbangan gaya hidup dan pekerjaan menjadi hal yang paling penting bagi mereka Generasi Y. Karenanya, mereka cenderung mencari pekerjaan yang dapat menunjang gaya hidup. Jika tidak, mereka cenderung berhenti dari pekerjaan tersebut.

4.      Generasi Z (Tahun Kelahiran 1995-2010)

Generasi ini adalah peralihan dari Generasi Y dimana teknologi sedang berkembang. Pola pikir mereka cenderung serba ingin instan.
Namun masih belum banyak yang dapat disimpulkan karena usia mereka saat ini masih menginjak remaja. Kehidupan mereka cenderung bergantung pada teknologi, mementingkan popularitas dari media sosial yang digunakan.

5.      Generasi Alpha (Tahun Kelahiran 2010-Sekarang)

Generasi ini adalah lanjutan dari generasi Z dimana mereka sudah terlahir dengan teknologi yang semakin berkembang pesat. Di usia mereka yang sangat dini, mereka sudah mengenal dan sudah berpengalaman dengan gadgetsmartphone dan kecanggihan teknologi yang ada.
Selain itu, kebanyakan mereka terlahir dari keluarga dengan masa Generasi Y yang juga terlahir pada masa-masa awal perkembangan teknologi.
Pola pikir mereka yang terbuka dengan perkembangan serta transformatif dan juga inovatif akan mempengaruhi perkembangan anak-anak generasi Alpha.

Sumber:




No comments:

Post a Comment

Komputrasi Modern# Tugas Rangkuman

Sistem Pemecahan Dari Persamaan Linear (Solving Systems of Linear Equations) Introduction ( Pengantar ) Sistem pemecahan persamaan linier di...