Kelompok 7:
1. Bherlian Nanda Imawan NPM : 51418417
2. Dinda Yuniar Dwi Putrie NPM : 52418027
3. Mochamad Fauzan Lapadengan NPM : 54418166
4. Rizki Abiyuza NPM : 56418281
RASISME
Rasisme adalah suatu sistem kepercayaan atau doktrin
yang menyatakan bahwa perbedaan biologis yang melekat pada ras manusia
menentukan pencapaian budaya atau individu – bahwa suatu ras tertentu lebih
superior dan memiliki hak untuk mengatur ras yang lainnya [1].
Beberapa penulis menggunakan istilah rasisme untuk
merujuk pada preferensi terhadap kelompok etnis tertentu sendiri
(etnosentrisme), ketakutan terhadap orang asing (xenofobia), penolakan terhadap
hubungan antar ras (miscegenation), dan generalisasi terhadap suatu kelompok
orang tertentu (stereotipe)
Rasisme telah menjadi faktor pendorong diskriminasi
sosial, segregasi dan kekerasan rasial, termasuk genosida. Politisi sering
menggunakan isu rasial untuk memenangkan suara. Istilah rasis telah digunakan
dengan konotasi buruk paling tidak sejak 1940-an, dan identifikasi suatu
kelompok atau orang sebagai rasis sering bersifat kontroversial. Berikut adalah
contoh kasus rasisme yang terjadi di Indonesia.
'Mereka tidak menerima
kos untuk anak Papua'
Benediktus Fatubun, mahasiswa berusia
23 tahun asal Papua, terus berjalan dari satu rumah ke rumah yang lain. Dia
selalu berhenti di setiap rumah yang memasang tulisan ‘Menerima Kos Putra’ atau
‘Masih Ada Kamar Kosong’ di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Namun setiap ia mengetuk
pintu, sang pemilik rumah selalu mengatakan kamar kos sudah penuh atau sudah
tidak menerima kos.
Mahasiswa yang biasa
dipanggil Benfa ini tidak tahu pasti apa penyebabnya. Yang jelas dia yang sudah
diterima menjadi mahasiswa di salah satu perguruan tinggi sampai sebulan tidak
juga mendapatkan tempat kos.
Belakangan Benfa tahu,
penolakan itu lantaran dia orang Papua. “Ada yang bilang, tidak menerima kos
untuk anak Papua,” ceritanya, Jumat (01/07).
Ini tidak hanya
terjadi pada Benfa. “Saya juga ditolak gara-gara saya orang Papua,” kata Ruben
Frasa (26), mahasiswa semester akhir salah satu kampus swasta di Yogyakarta.
Suatu hari, pelajar Papua yang lain diminta pergi dari halaman
kampus oleh seorang dosen. Mahasiswi yang sedang duduk sambil merajut Noken itu
dihampiri diminta pergi karena 'dia orang Papua'. Testimoni mahasiswi yang tak
ingin disebut namanya ini lantas dibagikan dalam sebuah unggahan Facebook, memicu perbincangan di dunia maya.
“Sampai sekarang, perlakuan diskriminatif dan rasis masih sering
kami terima,” ujar Aris Yeimo (30), Ketua Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Papua di
Yogyakarta, seperti yang dilaporkan wartawan lokal Yaya Ulya, Minggu (03/07).
Perbedaan perlakuan
terhadap orang Papua tidak hanya terjadi di Yogyakarta tetapi juga di beberapa
daerah lain termasuk di Jakarta.
'Susah bayar'
Lalu, mengapa
diskriminasi itu terjadi?
Salah satu yang
berperan besar adalah pandangan umum yang menganggap orang Papua sering mabuk,
suka melanggar peraturan, dan suka berkelahi. “Karena kenyataannya seperti
itu,” kata Pedro Indharto (33), warga asli Yogyakarta.
Warga Yogyakarta lainnya, Sukma Indah Permana (28) mengaku kerap
melihat orang Papua yang tidak patuh aturan lalu lintas, bahkan mereka kadang
tiga orang naik motor tanpa memakai helm. “Aku sering lihat, loh,” katanya.
Mereka mengakui tidak
semua orang Papua seperti itu dan mengatakan banyak orang Papua berperilaku
baik. Tetapi, ulah sebagian orang membuat stigma negatif menempel kuat.
Seorang pemilik
kos-kosan yang ditanya mengapa dia tidak mau menerima orang Papua mengatakan
dirinya memiliki pengalaman buruk.
“Susah bayar, suka bikin
gaduh suasana kos apalagi kalau pas mabuk,” kata Nugroho (28), pengelola
kos-kosan di Depok, Sleman. Sebagai pemilik bisnis, dia menginginkan pemasukan
keuangan lancar dan tertib, sehingga mengaku "malas berususan dengan Papua
karena tidak tertib dalam membayar".
Perilaku segelintir
orang Papua menjadi sebuah sterotipe di Yogyakarta, kata Aris Yeimo.
"Biasanya (yang suka mabuk) adalah anak muda Papua yang baru datang karena
ada emosi (budaya) yang terbawa dari Papua," katanya.
Orang Papua yang
tinggal di tempat dingin seperti di pegunungan, kata Aris, biasanya butuh
penghangat sehingga terbiasa minum produk lokal untuk menghangatkan - sehingga
ketika berada di Yogyakarta, perlu waktu untuk beradaptasi.
“Tapi kalau bikin onar
dan makan tidak mau membayar, itu hanya beberapa orang, tidak semua. Jadi
jangan digeneralisir,” imbuhnya.
Pengaruh Cyberbullying di Media Sosial Terhadap
Kepribadian Korban
Di
era globalisasi ini, hampir tidak ada orang yang tidak memiliki sosial media.
Selain memiliki banyak manfaat seperti untuk sarana hiburan dan pekerjaan, hal
yang tak luput dari penggunaaan sosial media tersebut adalah cyberbullying. Dalam halaman ini saya
akan menjelaskan hubungan cyberbullying
di media sosial terhadap kepribadian korban.
A. Media
Sosial
1)
Pengertian
media sosial
Berikut ini adalah pengertian media sosial
menurut para ahli :
1. Philip Kotler dan Kevin Keller
Menurut Philip dan Kevin Keller pengertian media sosial adalah sarana bagi
konsumen untuk berbagai informasi teks, gambar, video, dan audio dengan satu
sama lain dan dengan perusahaan dan sebaliknya.
2. Marjorie Clayman
Menurut Marjorie Clayman pengertian media sosial adalah alat pemasaran baru
yang memungkinkan untuk mengetahui pelanggan dan calon pelanggan dengan cara
yang sebelumnya tidak mungkin.
3. Chris Brogan
Menurut Chris Brogan pengertian media sosial adalah seperangkat alat komunikasi
dan kolaborasi baru yang memungkinkan terjadinya berbagai jenis interaksi yang
sebelumnya tidak tersedia bagi orang awam.
4. M. Terry
Menurut M. Terry definisi media sosial adalah suatu media komunikasi dimana
pengguna dapat mengisi kontennya secara bersama dan menggunakan teknologi penyiaran
berbasis internet yang berbeda dari media cetak dan media siaran tradisional.
5. Andreas M. Kaplan dan Michael Haenlien
Menurut Andreas M. Kaplan dan Michael Haenlien pengertian media sosial adalah
kelompok aplikasi berbasis Internet yang dibangun dengan dasar-dasar ideologis
Web 2.0 (yang merupakan platform dari evolusi media sosial) yang memungkinkan
terjadinya penciptaan dan pertukaran dari User Generated Content.
2)
Fungsi
Media Sosial
Setelah
memahami pengertian media sosial dan karakteristiknya, tentunya kita juga perlu
tahu apa saja fungsinya. Berikut ini adalah beberapa fungsi media sosial secara
umum:
a.
Memperluas
interaksi sosial manusia dengan memanfaatkan teknologi internet dan website.
b.
Menciptakan
komunikasi dialogis antara banyak audiens (many
to many).
c.
Melakukan
transformasi manusia yang dulunya pemakai isi pesan berubah menjadi pesan itu
sendiri.
d.
Membangun
personal branding bagi para pengusaha
ataupun tokoh masyarakat.
e.
Sebagai
media komunikasi antara pengusaha ataupun tokoh masyarakat dengan para pengguna
media sosial lainnya.
B. Cyberbullying
1)
Pengertian
Cyberbullying
Cyberbullying adalah kekerasan yang
dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang yang menggunakan bantuan alat
elektronik yang di lakukan secara berulang kali atau terus menerus pada
seseorang yang sulit membela dirinya. (Smith dkk., 2008; dalam Alamsyah, 2013)
2)
Aspek-aspek
Cyberbullying
Ø Bentuk-bentuk praktek
cyberbullying yang sering dilakukan antara lain:
1. Mengirimkan email dan sms yang berisikan cacian dan hinaan.
2. Menyebarkan gossip atau berita buruk yang tidak menyenangkan melalui
jejaring sosial berupa komentar, gambar dan status yang dibuat.
3. Menggugah atau membeberkan beberapa identitas target tanpa ijin.
4. Mengunggah video yang memalukan yang bisa di akses semua orang.
Ø Willard (2007; dalam
Sylmia, 2012) menyebutkan macam-macam jenis cyberbullying sebagai berikut:
1. Flaming (terbakar): yaitu mengirimkan pesan teks yang isinya merupakan
kata-kata yang penuh amarah dan frontal. Istilah “flame” ini pun merujuk pada
kata-kata di pesan yang berapi-api.
2. Harassment (gangguan): pesan-pesan yang berisi gangguan yang menggunakan
email, sms, maupun pesan teks di jejaring sosial dilakukan secara terus
menerus.
3. Denigration (pencemaran nama baik): yaitu proses mengumbar keburukan
seseorang di internet dengan maksud merusak reputasi dan nama baik orang
tersebut.
4. Impersonation (peniruan): berpura-pura menjadi orang lain dan mengirimkan
pesan-pesan atau status yang tidak baik.
Outing: menyebarkan rahasia orang lain, atau foto-foto pribadi orang lain
5. Trickery (tipu daya): membujuk seseorang dengan tipu daya agar mendapatkan
rahasia atau foto pribadi orang tersebut.
6. Exclusion (pengeluaran) : secara sengaja dan kejam mengeluarkan seseorang
dari grup online.
7. Cyberstalking: mengganggu dan mencemarkan nama baik seseorang secara intens
sehingga membuat ketakutan besar pada orang tersebut.
Alat yang di gunakan
untuk melakukan cyber bullying menurut Sheri Bauman (2008; dalam Sylmia, 2012)
yaitu Instant Message (IM), Chatroom, Trash Polling Site, Blog, Bluetooth
bullying, dan situs-situs jejaring sosial.
Bhat (2008; dalam
Sylmia, 2012) dalam Australian Journal of Guidance & Counselling
menyebutkan salah satu alat cyberbullying adalah mobile phone. Fitur yang digunakan
dalam mengintimidasi adalah mengirimkan pesan teks atau sms, gambar, ataupun
video yang mengganggu korban.
C. Ruang Lingkup Ilmu Sosial
Ilmu sosial dasar mencakup masalah-masalah sosial yang
timbul didalam sebuah masyarakat. Untuk menelaah masalah-masalah sosial
tersebut hendaknya terlebih dahulu dapat mengidentifikasi kenyataan-kenyataan
sosial dan memahami sejumlah konsep sosial tersebut. Sehingga ilmu sosial dasar
dapat dibedakan atas tiga golongan besar yaitu :
1.
Kenyataan-kenyataan sosial yang ada
didalam masyarakat, yang secara bersama-sama merupakan masalah sosial tertentu.
2.
Konsep-konsep sosial atau
pengertian-pengertian tentang kenyataan-kenyataan sosial dibatasi pada konsep
dasar atau elementer saja yang sangat diperlukan untuk mempelajari
masalah-masalah sosial yang dibahas pada ilmu sosial.
3.
Masalah-masalah sosial yang timbul
dalam masyarakat, biasanya terlibat dalam berbagai kenyataan-kenyataan sosial
yang satu dengan yang lainnya saling berkaitan satu sama lain.
Ilmu sosial dasar terdiri dari 8 (delapan) pokok pembahasan.
Dari kedelapan pokok pembahasan tersebut maka ruang lingkup perkuliahan Ilmu
Sosial Dasar diharapkan mempelajari dan memahami adanya :
1.
Berbagai masalah kependudukan dalam
hubunganya dengan pengembangan masyarakat dan kebudayaan.
2.
Masalah Individu, keluarga dan
masyarakat.
3.
Masalah pemuda dan sosialisasi.
4.
Masalah hubungan antara Warga Negara
dan Negara.
5.
Masalah pelapisan sosial dan
kesamaan derajat.
6.
Masalah masyarakat perkotaan dan
masalah pedesaan.
7.
Masalah pertentangan-pertentangan
sosial dan integrasi.
8.
Pemanfaatan ilmu pengetahuan dan
teknologi bagi kemakmuran dan keserjahteraan.
D. Kaitan
Cyberbullying di Media Sosial dengan Ruang Lingkup Ilmu Sosial
Dalam hal keseharian ada yang dinamakan
ruang lingkup ilmu sosial (seperti yang telah dijelaskan diatas). Tanpa kita
sadari, di era globalisasi ini teknologi telah berkembang sangat pesat dan
sangat memungkinkan terjadinya masalah – masalah yang berkaitan dengan ruang
lingkup ilmu sosial.
Cyberbullying
di media sosial merupakan salah satu permasalah di bidang teknologi yang
terjadi di era globalisasi ini. Hal ini merupakan salah satu dampak negatif
globalisasi dan adanya teknologi. Cyberbullying banyak terjadi dikalangan
remaja. Hal yang mendasari seseorang untuk membully biasanya dikarenakan iri, tidak suka terhadap orang tersebut,
atau pelampiasan dendam yang disebabkan oleh orang tersebut maupun orang lain.
E. Kaitan
Cyberbullying di Media Sosial dengan
Teknologi
Dalam era globalisasi ini, sangat
memungkinkan terjadinya interaksi tanpa
batas. Selain itu, di era ini, teknologi semakin canggih dan berekembang dengan
pesat. Sehingga mendorong setiap orang untuk mengikuti perkembangan teknologi
tersebut, salah satunya dengan menggunakan sosial media.
Terjadinya kebebasan dalam berinteraksi ini menjadikan beberapa orang
melewati “batas” sehingga malah menyalahgunakan sosial media tersebut. Salah
satu contoh penyalahgunaan sosial media
ini adalah Cyberbullying. Dengan
teknologi yang amat canggih, cyberbullying
tersebut bisa dilakukan dengan berbagai macam cara seperti yang telah
disebutkan di atas.
Selain itu, Hal ini dimungkinkan
karena di internet semua orang bisa “menyembunyikan” identitasnya, sehingga
mereka dengan mudah mencaci maki tanpa merasa bersalah.
Hal yang menjadi penyebab
terjadinya cyberbullying diantaranya,
seperti:
1.
Selalu
membandingkan orang yang satu dengan orang yang lain dan membuat standar
kesempurnaan untuk orang lain.
2.
Selalu
ingin mencari-cari kesalahan orang lain, lalu memberikan komentar yang kasar.
3.
Mengajak
orang lain untuk melakukan cyberbullying.
Analisis kasus
Berdasarkan survei IPSOS di 24
Negara termasuk Indonesia, didapati bahwa, satu dari sepuluh atau sekitar 12%
orang tua melaporkan bahwa anak mereka mengalami bullying, sekitar 60%
menyatakan alat yang digunakan ialah Facebook.
Dilansir dari laman Science
Daily, sebuah penelitian yang dipimpin oleh Profesor Ann John dari Swansea
University Medical School, yang bekerja sama dengan para peneliti dari Oxford
University dan Birmingham University, melakukan penelitian pada 150.000 anak
muda di 30 negara. Penelitian
tersebut menyoroti bahaya cyberbullying,
baik pada pelaku dan korban, yang biasanya terjadi pada anak-anak muda di bawah
25 tahun.
Hasil penelitian yang dimuat
dalam Journal of Medical Internet Research, menyatakan bahwa anak-anak muda
yang menjadi korban kekerasan di media sosial lebih rentan untuk menyakiti diri
sendiri hingga melakukan aksi bunuh diri. Sementara mereka yang berperan
sebagai pelaku, 20 persen berisiko lebih tinggi memiliki pikiran untuk bunuh
diri bahkan mencoba melakukan bunuh diri. Sebagian besar anak-anak muda yang
menjadi pelaku dan korban penindasan di media sosial, tidak benar-benar
mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Hal ini dijelaskan oleh Paul
Montgomery, seorang profesor dari Birmingham University, bahwa orang-orang yang
terlibat dalam kasus kekerasan di media sosial pada dasarnya memiliki masalah
traumatis yang hampir sama. Itu yang biasanya memotivasi para pelaku tindak
kekerasan di dunia maya.
Berikut
contoh korban akibat cyberbullying :
1.
Megan
Taylor Meier
Perempuan yang tinggal di Missouri, Amerika Serikat ini mengakhiri
hidupnya dengan cara tragis, yakni bunuh diri dengan gantung diri beberapa
minggu sebelum hari ulang tahunnya. Setelah diselidiki, polisi menemukan bukti
bahwa Megan stres setelah mengalami cyberbullying
lewat sosial media oleh temannya.
2.
Phoebe
Prince
Perempuan
cantik yang baru pindah dari Irlandia ke Massachusetts, Amerika Serikat ini
juga adalah contoh sisi kelam sosial media. Kisah kematian perempuan cantik
berusia 15 tahun diduga juga karena dibully
oleh temannya.
3.
Amanda
Todd
Remaja
15 tahun memposting video YouTube tentang tindakan bully yang dialaminya sebelum ia ditemukan tewas di rumahnya,
Kanada. Ia telah menerima perlakukan cyberbullying
(pelecehan di dunia maya) selama 3 tahun.
4.
Katie
Webb
Perempuan
berusia 12 tahun ini tewas karena gantung diri di rumahnya di Evesham,
Worcestershire, Inggris. Menurut petugas, tak ada tanda-tanda yang mencurigakan
dengan kematian gadis ini.
Namun
dalam penyelidikan terungkap, dari teman-temannya diketahui, Katie menjadi
bulan-bulanan di media sosial karena gaya rambut dan pakaiannya yang tidak
bermerk.
Dari contoh kasus yang telah
dipaparkan diatas, dapat disimpulkan dampak paling buruk dari cyberbullying adalah bunuh diri. Hal ini
berarti bahwa cyberbullying
dapat menyerang psikologis dan kesehatan
mental si korbannya. Seperti sedih, marah, minder, rendah diri, malu, dan
takut. Efek dari cyberbullying ini
akan bertahan dan membekas dalam jangka panjang, sehingga akan menyebabkan
depresi bahkan sampai kemungkinan terburuknya, yaitu bunuh diri.
F. Pembagian
Generasi
Dunia ini semakin canggih dengan
perkembangan teknologi yang berjalan cepat. Setiap perkembangan dan seiring
berjalannya waktu, terbentuk satu generasi baru yang tentu saja memiliki pola
pikir dan karakter yang berbeda oleh karena berbagai faktor sehingga membentuk
kepribadian dan bahkan paradigma tersendiri.
1. Baby Boomers (Lahir
Pada Rentang Tahun < 1960)
Generasi
ini terlahir pada masa-masa dimana berbagai perang telah berakhir sehingga
perlu penataan ulang kehidupan dan banyak keluarga yang memiliki banyak anak.
Di samping itu, perekonomian dan pertumbuhan penduduk sedang mulai meningkat.
Adat istiadat masih dipegang teguh dan bahasa slank belum
berkembang. Orang-orang pada masa itu masih cenderung “kolot” dan sangat matang
dalam pengambilan keputusan.
a.
Karakteristik Khusus
·
Anti
peperangan
·
Anti
pemerintah
·
Menganggap
bahwa tak ada yang tak mungkin
·
Menjunjung
kesetaraan hak dan kesempatan
·
Sangat
setia kepada keluarga (terutama anak-anak)
·
Dapat
mempengaruhi orang lain
·
Optimis
dan ambisius
·
Fokus
pada pengembangan diri
·
Memiliki
rasa ingin tahu yang tinggi
b.
Lingkungan Kerja yang Disukai
·
Hierarki
perusahaan cenderung datar
·
Demokratis
·
Memberikan
kesempatan yang sama pada para pekerjanya
·
Suasana
hangat dan ramah di kantor
c. Kewajiban Kerja
·
Mengharapkan
semua pekerja menjadi workaholics
·
Tidak
menyukai konflik
·
Tak
suka dengan perubahan
·
Cenderung
menghakimi saat merasa sependapat dengan rekan kerja
d.
Etika Dalam Bekerja
·
Dapat
bekerja lebih keras saat mendapatkan motivasi
·
Pekerja
keras
·
Memiliki
daya tahan kerja yang baik demi mengembangkan diri
·
Mementingkan
kualitas dalam bekerja
e.
Komunikasi
·
Suka
berbicara ’empat mata’ dibandingkan melalui telepon atau email
·
Saat
ditanya akan menjawab seperlunya dan berharap ditanya lebih lanjut
·
Tidak
suka dengan manipulasi bahasa dan diplomatis
Generasi Baby Boomers
cenderung tidak suka menerima kritik. Uang dan pengakuan dari lingkungan adalah
target mereka. Gengsi menjadi urutan pertama dalam kehidupan sosial.
Pandangan akan pekerjaan dan kehidupan pribadi
para Baby Boomers tidak seimbang, dimana
generasi ini menganggap bahwa hidup untuk bekerja. Namun demikian, loyalitas
dan dedikasi dalam bekerja menjadi poin positif bagi Baby Boomers.
2. Generasi
X (Tahun Kelahiran 1961-1980)
Generasi ini cenderung suka akan risiko dan
pengambilan keputusan yang matang akibat dari pola asuh dari generasi
sebelumnya, Baby Boomers. Generasi ini terlahir
pada masa-masa adanya gejolak dan transisi serta menyaksikan berbagai konflik
global seperti Perang Dingin, Perang Vietnam, jatuhnya Tembok Berlin. Generasi
ini cenderung lebih toleran, menerima berbagai perbedaan yang ada. Selain itu,
dari segi teknologi informasi, generasi ini mulai mengenal yang namanya
komputer sehingga generasi ini mulai berpikir secara inovatif untuk mempermudah
kehidupan manusia.
a.
Karakteristik Khusus
·
Mandiri
·
Pragmatis
·
Mementingkan
kesinambungan
·
Menyenangkan
·
Berpikiran
luas
·
Suka
dengan keragaman
·
Memiliki
jiwa pengusaha
·
Memiliki
ekspektasi kerja tinggi
·
Lebih
menyukai pekerjaan yang tidak formal
b.
Lingkungan Kerja yang Disukai
·
Suasana
kantor yang tidak kaku
·
Jenjang
karier yang jelas dan cepat
·
Suasana
kantor dengan cara kerja yang efisien dan fleksibel
c.
Kewajiban Kerja
·Tidak menyukai kekuasaan dari
pihak tertentu
·Tidak suka dengan persyaratan
kerja yang kaku
·Tidak sabar, sinis, menolak
aturan
·Tidak memiliki prospek jangka
panjang
d. Etika Dalam Bekerja
·
Skeptis,
mandiri
·
Bekerja
pintar – efisiensi cara dan waktu – dengan hasil yang bagus
·
Menyukai
struktur yang jelas dalam perusahaan
e.
Komunikasi
·Tidak suka berbasa-basi
·Daripada penjelasan melalui personal
chat, generasi ini lebih suka melalui email
·Cara berkomunikasi yang informal
·Suka berbicara lugas dan langsung
pada inti pembicaraan
Generasi X sangat terbuka dengan
kritik dan saran agar lebih efisien dalam bekerja. Pandangan mereka adalah
bekerja untuk hidup, bukan hidup untuk bekerja sehingga kehidupan antara
pekerjaan, pribadi, dan keluarga cenderung seimbang.
3. Generasi
Y – Generasi Millennial (Tahun Kelahiran 1981-1994)
Di era ini, selain komputer sudah menjamur, ditambah
lagi dengan berkembangnya video games, gadget, smartphones, dan
setiap kemudahan akan fasilitas berbasis computerized yang
ditawarkan serta kecanggihan internet, membuat Generasi Y menjadi suatu
generasi yang mudah mendapatkan informasi secara cepat.
Pola pikir dan karakter generasi ini dapat dikatakan
generasi penuh ide-ide visioner dan inovatif untuk melahirkan generasi yang
memiliki pengetahuan dan penguasaan IPTEK. Bagi Anda yang saat ini menginjak usia
20-30 tahun, tentunya Anda adalah Generasi Y dan kini sedang dalam masa akhir
perkuliahan dan memasuki dunia kerja. Manfaatkan usia Anda untuk segera
memiliki perencanaan keuangan yang mapan sebagai persiapan menuju usia 30 an.
a.
Karakteristik Khusus
·
Realistis
·
Disiplin
·
Mementingkan
prestasi kerja
·
Penuh
keinginan
·
Memiliki
kepercayaan diri yang baik
·
Memanfaatkan
teknologi
·
Suka
dengan perbedaan
b.
Lingkungan Kerja yang Disukai
·
Suasana
kerja yang kekeluargaan
·
Fleksibilitas
·
Selalu
memberikan tantangan baru
·
Kolaborasi
antara rekan kerja yang baik
c. Kewajiban Kerja
·
Pekerja
keras
·
Berekpektasi
tinggi
·
Mematuhi deadline
·
Membutuhkan
struktur yang jelas dalam bekerja
·
Berorientasi
pada cara kerja
·
Lembur
bukan masalah besar
d.
Etika Dalam Bekerja
·Ambisius dan multitasking
·Selalu mencari tantangan
·Suka membangun usaha sendiri
e.
Komunikasi
·
Ketika
hal yang diperbincangkan sangat serius, lebih baik bicara empat mata walaupun
diawali dengan chat personal
·
Meski
sopan, namun tidak suka dengan pembicaraan dengan gaya serius
·
Menyapa
lebih dulu
Generasi Y cenderung bertanya dan meminta kritik serta
saran untuk kemajuannya. Mereka menganggap bahwa rewards terbaik
adalah perasaan ketika pekerjaannya dinilai berarti bagi hal-hal tertentu.
Keseimbangan gaya hidup dan pekerjaan menjadi hal yang
paling penting bagi mereka Generasi Y. Karenanya, mereka cenderung mencari
pekerjaan yang dapat menunjang gaya hidup. Jika tidak, mereka cenderung
berhenti dari pekerjaan tersebut.
4. Generasi
Z (Tahun Kelahiran 1995-2010)
Generasi
ini adalah peralihan dari Generasi Y dimana teknologi sedang berkembang. Pola
pikir mereka cenderung serba ingin instan.
Namun
masih belum banyak yang dapat disimpulkan karena usia mereka saat ini masih
menginjak remaja. Kehidupan mereka cenderung bergantung pada teknologi,
mementingkan popularitas dari media sosial yang digunakan.
5. Generasi Alpha (Tahun
Kelahiran 2010-Sekarang)
Generasi
ini adalah lanjutan dari generasi Z dimana mereka sudah terlahir dengan
teknologi yang semakin berkembang pesat. Di usia mereka yang sangat dini,
mereka sudah mengenal dan sudah berpengalaman dengan gadget, smartphone dan
kecanggihan teknologi yang ada.
Selain
itu, kebanyakan mereka terlahir dari keluarga dengan masa Generasi Y yang juga
terlahir pada masa-masa awal perkembangan teknologi.
Pola
pikir mereka yang terbuka dengan perkembangan serta transformatif dan juga
inovatif akan mempengaruhi perkembangan anak-anak generasi Alpha.
Sumber:
No comments:
Post a Comment