Gambaran Kerajaan Sriwijaya dari Kehudipan Politik,Sosialisasi,
Ekonomi, Dan Budaya pada Kerajaan di Indonesia.
Candi
Muara Takus dibangun pada masa kerajaan Sriwijaya berdiri. (Sumber:
Flickr/Dandin)
Sejarah
Kerajaan Sriwijaya
Di zaman dahulu,
kerajaan tersebut merupakan pusat penyebaran agama Buddha pada abad 8 hingga
abad 12. Selain menjadi pusat penyebaran agama, ternyata kejayaan yang dimiliki
oleh kerajaan juga akibat dari pengaruh perdagangan lautnya yang sangat ramai.
Bahkan, Kerajaan tersebut
juga menjadi satu-satunya kerajaan yang menguasai Selat Malaka sehingga
sehingga memiliki hubungan dagang yang sangat erat dengan India, China dan
Kepulauan Malaysia yang waktu itu dikenal sebagai negara dengan pengaruh dagang
yang kuat. Raja pertama dari Kerajaan Sriwijaya adalah Sri Jayanaga, namun
kejayaan dari negara ini saat pemerintahan Balaputra Dewa.
Dalam bahasa Sansekerta, ternyata Sriwijaya memiliki sebuah arti. Dimana Ari
memiliki arti “bercahaya” atau “gemilang” sedangkan Wijaya sendiri
berarti “kemenangan” atau “kejayaan”. Nah, jika digabungkan, maka arti dari
Sriwijaya sendiri adalah “kemenangan yang gilang-gemilang”. Tentu, arti dari
nama Sriwijaya sendiri sesuai dengan kejayaan kerajaan yang dimiliki.
Seperti yang sudah
dijelaskan, bahwa kerajaan yang satu ini merupakan kerajaan dengan pusat agama
Buddha terbesar. Agama yang ada di dalam Kerajaan Sriwijaya ini sendiri ialah
Buddha Vajrayana, Buddha Mahayana, Buddha Hinayana dan Hindu. Meski ada agama
Hindu di dalamnya namun pengaruh agama Hindu tidaklah terlalu besar.
Sedangkan, bahasa yang digunakan oleh masyarakat Sriwijaya sendiri adalah
Bahasa Melayu Kuno dan Sansekerta Jawa Kuno. Di zaman itu, proses jual beli
dengan menggunakan mata uang emas dan perak. Dengan pemerintahan monarki
yang dijalankan oleh kerajaan tersebut membuat Kerajaan Sriwijaya memiliki
pemerintahan yang sangat baik.
Selain itu, raja-raja yang
memerintah juga mampu membuat kerajaan tersebut memiliki kekuasaan yang sangat
luah hingga ke wilayah Asia Tenggara. Keberhasilan dalam menguasai
perdagangan dan memiliki kekuasaan yang luas tentu saja tidak terlepas dari
beberapa raja hebat yang memerintah Kerajaan Sriwijaya.
Raja
raja Kerajaan Sriwijaya
dentmasoci.com
Berikut ini ada
beberapa raja terkenal dari Sriwijaya yang mampu membuat kerajaan tersebut
memiliki kekuasaan yang sangat luas dan memiliki kejayaan pada masanya.
Raja Daputra
Hyang
Raja Daputra Hyang merupakan
salah satu raja dari Sriwijaya yang mampu membuat kerajaan tersebut melebarkan
sayapnya. Raja yang satu ini bahkan bercita-cita ingin menjadikan Kerajaan
Sriwijaya sebagai Kerajaan Maritim. Pada kekuasaannya pun, beliau mampu memperluas
kekuasaan Sriwijaya hingga ke Jambi.
Cerita mengenai Raja Daputra
Hyang ini ditemukan pada sebuah Prasasti Kedukan Bukit (683M). Selama
kekuasaannya tersebut tentu saja Raja Daputra Hyang memiliki pengaruh yang
sangat besar.
Raja
Dharmasetu
Pada masa kekuasaan Raja
Dharmasetu ini, ternyata Kerajaan Sriwijaya telah meluas hingga Semenanjung
Malaya. Hal inilah yang membuat kerajaan yang satu ini membangun sebuah
pangkalan di wilayah Ligor. Berbagai macam prestasi ternyata berhasil di toreh
oleh Raja Dharmasetu seperti berhasil menjalin hubungan dengan Negeri China dan
India.
Dengan
kerjasamanya tersebut, ternyata berhasil membuat China dan India selalu mampir
di Bandar-bandar Sriwijaya saat berlayar. Hal inilah yang membuat kerajaan
tersebut mendapatkan keuntungan yang sangat banyak dari aktivitas perdagangan
yang dilakukan.
Raja
Balaputra Dewa
Raja Balaputra Dewa adalah
raja yang mampu membuat Sriwijaya menjadi kerajaan terbesar pada masa itu. Raja
yang satu ini menjabat pada abad ke 9. Cerota dari Raja Balaputra Dewa sendiri
berasal dari sebuah prasasti yang disebut dengan Prasasti Nalanda.
Karena kehebatan kepemimpinan
dari Raja Balaputra Dewa sendirila yang menjadikan Kerajaan Sriwijaya sebagai
kerajaan dengan pusat agama Buddha terbesar di Asia Tenggara. Bahkan, beliau
mampu menjalin sebuah kerjasama yang sangat baik dengan beberapa kerajaan yang
ada di India seperti Kerajaan Cola dan Nalanda.
Balaputra Dewa sendiri
merupakan keturunan dari Dinasti Syailendra, yakni putra dari Raja Samaratungga
dan Dewi Tara dari Kerajaan Sriwijaya. Karena prestasi dan kehebatannya dalam
memerintah menjadikan Raja Balaputra Dewa sebagai raja yang membawa Sriwijaya
dalam kejayaan.
Raja Sri Sudamaniwarmadewa
Pada masa pemerintahan Raja
Sri Sudamaniwarmadewa, ternyata Kerajaan Sriwijaya pernah mendapatkan serangan
dari Raja Darmawangsa yang berasal dari Jawa Timur. Akan tetapi, serangan yang
diluncurkan tersebut dapat digagalkan oleh para tentara Sriwijaya.
Raja Sanggrama
Wijayattunggawarman
Pada masa kekuasaan Raja
Sanggrama ternyata Sriwijaya mendapat serangan dari Kerajaan Chola yang
dipimpin oleh Raja Rajendra Chola. Tidak seperti serangan yang terjadi pada
masa Raja Sri Sudamaniwarmadewa. Ternyata, tentara Sriwijaya tidak mampu
mengalahkan serangan dari Kerajaan Chola.
Hal inilah yang membuat Raja
Sanggrama kemudian ditahan. Namun, pada masa kekuasaan Raja Kulotungga I dari
Kerajaan Chola, Raja Sanggrama Wijayattunggawarman kemudian dibebaskan.
Itulah raja-raja terkenal
yang menjadikan kerajaan satu ini memiliki kejayaan sekaligus hancur karena
sebuah serangan dari kerajaan lainnya. Kejayaan yang dimiliki oleh Kerajaan
Sriwijaya tentu tidak jauh dari kehidupan agama, budaya, perdagangan serta
politik pemerintahannya.
Tentu saja, berbagai macam faktor tersebut sangat penting dalam mengembangkan
kejayaan dari kerajaan terbesar di Nusantara satu ini. Untuk lebih jelasnya,
berikut akan dijelaskan mengenai beberapa faktor yang menjadikan Kerajaan
Sriwijaya memiliki kekuasaan yang luas dan kejayaan yang cukup lama.
Agama dan Sosial Budaya Kerajaan Sriwijaya
Sriwijaya menjadi kerajaan
yang sudah terkenal sebagai pusat pengajaran Agama Buddha. Menjadi pusat
pengajaran agama Buddha ternyata dapat membuat Sriwijaya menarik banyak
peziarah maupun sarjana dari berbagai macam negara di Asia.
Diantaranya yakni I Tsing
yang merupakan seorang pendeta dari Tiongkok dan telah melakukan sebuah
ekspansi ke Pulau Sumatera pada saat perjalanan belajarnya di sebuah
universitas yang bernama Universitas Nalanda India pada tahun 671 hingga 695.
Ada juga seorang sarjana
Buddha dari Benggala yang bernama Atisha dan datang pada abad ke 11. Beliau
merupakan sarjana Buddha yang sangat berpengaruh dalam perkembangan Buddha
Vajrayana yang ada di Tibet.
Pada saat I Tsing mengunjungi
kerajaan yang satu ini, beliau melaporkan bahwa Kerajaan Sriwijaya adalah
sebuah rumah untuk para sarjana Buddha, sehingga tak ayal apabila kerajaan
tersebut menjadi pusat pembelajaran agama Buddha terbesar di Asia Tenggara.
Tak hanya itu saja, bahkan
pelancong yang datang ke kerajaan ini menyatakan bahwa koin emas sudah
digunakan untuk kegiatan jual beli di pesisir kerajaan. Beberapa ajaran Buddha
lainnya juga berkembang di kerajaan satu ini, seperti ajaran Buddha Hinayana
serta ajaran Buddha Mahayana.
Selain kehidupan
agamanya, ternyata kehidupan budaya yang ada di Kerajaan Sriwijaya banyak
dipengaruhi oleh budaya yang berasal dari India. Hal ini diawali oleh agama
Hindu yang kemudian diikuti dengan agama Buddha yang menyebar secara luas.
Selain itu, kemampuan
beberapa raja-raja Sriwijaya yang mampu yang mampu menguasai Kepulauan Melayu
melalui sebuah perdagangan pada abad 7 sampai abad ke 9 ternyata juga
mempengaruhi kebudayaan Melayu serta bahasa di wilayah Nusantara.
Menjadi pusat bandar
perdagangan di Asia Tenggara tentu saja memungkinkan Sriwijaya untuk
bekerjasama dengan para pedagang serta para ulama yang berada di Timur Tengah.
Hal inilah yang menjadi cikal bakal berdirinya beberapa kerajaan Islam di
wilayah Sumatera setelah runtuhnya Kerajaan Sriwijaya.
Bahkan, ada sumber yang
mengungkapkan bahwa banyak orang Arab yang berkunjung ke Sriwijaya. Hal
inilah yang membuat Raja Sri Indrawarman memeluk agama Islam pada tahun 718.
Sehingga sangat memungkinkan jika pada waktu itu masyarakat sosial yang ada di
Kerajaan Sriwijaya terdiri atas masyarakat muslim dan Buddha sekaligus.
Perkembangan agama Islam pun
semakin kuat di Sriwijaya setelah tercatat beberapa kali raja dari Sriwijaya
mengirimkan sebuah surat ke khalifah Islam yang ada di Suriah untuk sudi
mengirimkan da’I ke dalam istana Sriwijaya. Surat tersebut ternyata ditujukan
kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz pada tahun 717M sampai 720M.
Perdagangan Kerajaan
Sriwijaya
Selain sebagai pusat agama
Buddha di Asia Tenggara, kejayaan yang dimiliki oleh Sriwijaya juga akibat dari
kekuasaan perdagangan yang dimilikinya. Dalam dunia perdagangan sendiri,
Kerajaan Sriwijaya ternyata menguasai bahkan mengendalikan jalur perdagangan
antara India dan Tiongkok, yakni dengan menguasai Selat Sunda dan Selat Malaka.
Bahkan, orang Arab juga
mencatat bahwa Sriwijaya memiliki berbagai macam komoditi untuk dijual kepada
para pedagang seperti emas, timah, gading, pala, cengkeh, kapulaga, kapur
barus, kayu gaharu dan masih banyak yang lainnya. Tentu saja, berbagai macam
komoditi tersebut sangat dibutuhkan oleh para pedagang. Tak heran, jika
Kerajaan Sriwijaya memiliki kekayaan yang sangat besar.
Nah, dengan kekayaan yang dimilikinya tersebut memungkinkan Sriwijaya untuk
membeli kesetiaan dari beberapa vassal-vassal yang ada di wilayah Asia
Tenggara. Inilah yang menjadi alasan mengapa Sriwijaya memiliki pengaruh yang
sangat besar di Asia Tenggara.
Pada saat paruh pertama abad
ke 10, yakni saat naiknya Dinasti Song dan turunnya Dinasti Tang,
perdagangan yang ada di luar negeri bisa dibilang cukup heboh. Beberapa negara
dan kerajaan kaya seperti Fujian, Kerajaan Nan Han, Kerajaan Min dan Negeri
Guangdong mendapatkan pengaruh yang cukup besar.
Karena situasi yang satu ini
membuat Kerajaan Sriwijaya dapat meraup keuntungan yang sangat besar dari
perdagangan tersebut.
Politik Kerajaan Sriwijaya
Selain agama dan perdagangan
yang membuat Kerajaan Sriwijaya menjadi maju, ternyata kehidupan politik
Kerajaan Sriwijaya juga memiliki pengaruh yang sangat besar. Ternyata untuk
memperkuat posisinya dalam kekuasaan wilayah di Asia Tenggara, Sriwijaya
melakukan hubungan diplomasi dengan kekaisaran China. Bahkan, hubungan
diplomasi tersebut berjalan sangat baik dibuktikan dengan seringainya
mengantarkan utusan dan upeti.
Salah satu kekuasaan Kerajaan
Sriwijaya ialah Kerajaan Khmer. Bahkan, Sriwijaya menguasai kerajaan tersebut
sejak pertama kerajaan itu berdiri. Para sejarawan bahkan mengaku jika banyak
pengaruh Sriwijaya yang terlihat pada bangunan pagoda Borom. Bangunan tersebut
dipengaruhi oleh arsitektur Sriwijaya.
Selain itu,
Sriwijaya juga memiliki hubungan yang sangat erat dengan beberapa kerajaan
lainnya seperti Kerajaan Pala dari Benggala. Hal ini dibuktikan dengan sebuah
catatan dari Prasasti Nalanda bahwa Raja Balaputra Dewa memberikan sebuah piara
untuk Universitas Nalanda.
Kehidupan politik dari
Kerajaan Sriwijaya yang satu ini bisa dibilang sangat baik. Selain memiliki
hubungan yang baik dengan beberapa negara dan kerajaan yang sudah disebutkan
diatas, Sriwijaya juga memiliki hubungan yang sangat baik dengan Dinasti Chola
yang berada di Selat India.
Hubungan antara Sriwijaya
dengan dinasti tersebut tercatat dalam sebuah prasasti Leiden. Dimana tercatat
bahwa raja Sriwijaya telah mendirikan sebuah vihara yang disebut dengan Vihara
Culamanivarmma. Akan tetapi, setelah Rajendra Chola I naik tahta, hubungan
antara Chola dan Sriwijaya pun menjadi buruk. ini terjadi sekitar abad ke 11
pada masa pemerintahan Balaputra Dewa.
Namun, pada masa pemerintahan
Kulothunga Chola I, hubungan antara dua kerajaan tersebut mulai membaik. Raja
Sriwijaya yang ada di Kadaram mengirim utusan yang mana bermaksud untuk meminta
ikrar dari pengumuman pembebasan cukai yang ada di kawasan sekitar Vihara
Culamanivarmma.
Akan tetapi, pada masa inilah
Sriwijaya kemudian di cap sebagai bagian dari Dinasti Chola. Disebutkan bahwa
Kulothunga Chola I sebagai Raja San-fo-ts’I di tahun 1709 turut serta membantu
perbaikan candi yang ada di dekat Kanton.
Struktur Pemerintahan Kerajaan Sriwijaya
Suatu kerajaan pastinya tidak
jauh dari sebuah struktur pemerintahan di dalamnya. Untuk struktur pemerintahan
dari Kerajaan Sriwijaya ini sendiri ternyata dapat diketahui dari beberapa
prasasti yang ditemukan. Dimana prasasti-prasasti tersebut mengandung berbagai
macam informasi tentang samaryyada, kadatun, mandala, vanua serta bhumi.
Kadatun ini sendiri dapat
diartikan sebagai kawasan datu (tanah rumah) tempat tinggal, dimana tempat mas
disimpan serta hasil cukai (drawy) sebagai suatu wilayah yang harus dijaga
dengan baik. Nah, kadatun ini sendiri ternyata dikelilingi oleh vanua yang juga
dianggap sebagai wilayah dari Kota Sriwijaya. Di dalamnya terdapat vihara dan
digunakan untuk beribadah oleh masyarakat sekitar.
Kadatun dan Vanua itu sendiri
juga merupakan sebuah wilayah inti bagi Kerajaan Sriwijaya. Sedangkan
samaryyada adalah sebuah wilayah yang bersebrangan dengan vanua dan terhubung
oleh sebuah jalan khusus (Samaryyada-patha) dan bisa dikatakan sebagai salah
satu kawasan pedalaman.
Sedangkan, untuk mandala itu
sendiri adalah sebuah kawasan yang berdiri sendiri dari bumi namun tetap
mendapat kontrol dari kekuasaan yang berasal dari kesatuan
Sriwijaya. Penguasa dari Kerajaan Sriwijaya disebut dengan Maharaja atau
Dapunta Hyang.
Selain itu, di dalam silsilah
raja juga terdapat beberapa urutan seperti Yuvaraja (putra mahkota), Pratiyuvaraja
(putra mahkota kedua) serta Rajakumara (pewaris berikutnya). Berbagai
macam susunan pemerintahan serta jabatan yang ada pada kerajaan tersebut
tercantum dalam Prasasti Telaga Batu.
Dengan kejayaan yang dimilikinya, saat ini Sriwijaya sendiri telah dijadikan
dan diabadikan sebagai nama jalan di beberapa kota yang ada di Indonesia.
Bahkan, nama Sriwijaya ini sendiri sudah sangat melekat dengan Kota Palembang
dan Sumatera Selatan.
Salah satunya yakni ada pada
sebuah nama universitas ternama yang ada di Sumatera yakni Universitas
Sriwijaya. Universitas tersebut berdiri pada tahun 1960 dengan nama yang
berdasarkan kedatuan Sriwijaya. Tak hanya itu, ada juga yang lainnya
seperti Sriwijaya Post (surat kabar harian di Palembang), Sriwijaya Air
(maskapai penerbangan), Kodam II Sriwijaya (Unit Komando Militer) dan masih
banyak yang lainnya nama-nama yang menggunakan nama dari Kerajaan Sriwijaya.
Rangkuman
Kehidpan Politik
|
Kehidpan
Politik
|
Sriwijaya
mengalami kejayaan pada masa pererintahan Raja Balaputradewa yang mampu
meluaskan wilayahnya sampai dengan Semenanjung Malaya, selat Malaka dan laut
Cina Selatan.
|
|
Kehidupan Ekonomi
|
Letak geografis Sriwijaya sangat ideal
sebagai pusat perdagangan internasional. Sebagai kerajaan Maritim, Sriwijaya
adalah daerah metropolitan yang didatangi oleh orang dari berbagai penjuru
dunia.
|
|
Kehidupan Sosial
|
Masyarakat Sriwijaya berfisat terbuka dan
majemuk, sehingga memungkinkan terjadinya interaksi sosial antara para
pedagang asing dengan penduduk.
|
|
Kehidupan Budaya Dan Agama
|
Sriwijaya juga menjadi pusat pendidikan
agama Buddha pada abad ke-9 M dikarenakan hubungan yang baik dengan India dan
Cina.
|





