Perkembangan Agama Di masa
lampau dengan masa sekarang pada
Masyarakat di Pegunungan dan di Pesisir Pantai dan perbedaannya dan sejarah
mengenai masuknya agama ke Indonesia
Sejarah
Berdasar sejarah, kaum
pendatang telah menjadi pendorong utama keanekaragaman agama dan kultur di
dalam negeri dengan pendatang dari India, Tiongkok, Portugal, Arab, dan
Belanda. Bagaimanapun, hal ini sudah berubah sejak beberapa perubahan
telah dibuat untuk menyesuaikan kultur di Indonesia
Hindu dan Buddha telah
dibawa ke Indonesia sekitar abad kedua dan abad keempat Masehi ketika pedagang
dari India datang ke Sumatera, Jawa dan Sulawesi, membawa agama mereka. Hindu
mulai berkembang di pulau Jawa pada abad kelima Masehi dengan kasta Brahmana
yang memuja Siva. Pedagang juga mengembangkan ajaran Buddha pada abad berikut
lebih lanjut dan sejumlah ajaran Buddha dan Hindu telah mempengaruhi
kerajaan-kerajaan kaya, seperti Kutai, Sriwijaya, Majapahit dan
Sailendra.Sebuah candi Buddha terbesar di dunia, Borobudur, telah dibangun oleh
Kerajaan Sailendra pada waktu yang sama, begitu pula dengan candi Hindu,
Prambanan juga dibangun. Puncak kejayaan Hindu-Jawa, Kerajaan Majapahit,
terjadi pada abad ke-14 M, yang juga menjadi zaman keemasan dalam sejarah
Indonesia.
Islam masuk ke Indonesia
pada abad ke-14 M. Berasal dari Gujarat, India, Islam menyebar sampai
pantai barat Sumatera dan kemudian berkembang ke timur pulau Jawa. Pada periode
ini terdapat beberapa kerajaan Islam, yaitu kerajaan Demak, Pajang, Mataram dan
Banten. Pada akhir abad ke-15 M, 20 kerajaan Islam telah dibentuk, mencerminkan
dominasi Islam di Indonesia. Kristen Katolik dibawa masuk ke Indonesia oleh
bangsa Portugis, khususnya di pulau Flores dan Timor. Kristen Protestan pertama
kali diperkenalkan oleh bangsa Belanda pada abad ke-16 M dengan pengaruh ajaran
Calvinis dan Lutheran. Wilayah penganut animisme di wilayah Indonesia bagian
Timur, dan bagian lain, merupakan tujuan utama orang-orang Belanda, termasuk
Maluku, Nusa Tenggara, Papua dan Kalimantan. Kemudian, Kristen menyebar melalui
pelabuhan pantai Borneo, kaum misionarispun tiba di Toraja, Sulawesi. Wilayah
Sumatera juga menjadi target para misionaris ketika itu, khususnya adalah
orang-orang Batak, dimana banyak saat ini yang menjadi pemeluk Protestan.
Perubahan penting terhadap
agama-agama juga terjadi sepanjang era Orde Baru. Antara tahun 1964 dan 1965,
ketegangan antara PKI dan pemerintah Indonesia, bersama dengan beberapa
organisasi, mengakibatkan terjadinya konflik dan pembunuhan terburuk di abad
ke-20. Atas dasar peristiwa itu, pemerintahan Orde Baru mencoba untuk
menindak para pendukung PKI, dengan menerapkan suatu kebijakan yang
mengharuskan semua untuk memilih suatu agama, karena kebanyakan pendukung PKI
adalah ateis.Sebagai hasilnya, tiap-tiap warganegara Indonesia diharuskan untuk
membawa kartu identitas pribadi yang menandakan agama mereka. Kebijakan ini
mengakibatkan suatu perpindahan agama secara massal, dengan sebagian besar
berpindah agama ke Kristen Protestan dan Kristen Katolik. Karena Konghucu
bukanlah salah satu dari status pengenal agama, banyak orang Tionghoa juga
berpindah ke Kristen atau Buddha
Perkembangan Islam di Indonesia
Pada masa kedatangan dan
penyebaran Islam di Indonesia terdapat beraneka ragam suku bangsa, organisasi
pemerintahan, struktur ekonomi, dan sosial budaya. Suku bangsa Indonesia yang
bertempat tinggal di daerah-daerah pedalaman, jika dilihat dari sudut
antropologi budaya, belum banyak mengalami percampuran jenis-jenis bangsa dan
budaya dari luar, seperti dari India, Persia, Arab, dan Eropa. Struktur sosial,
ekonomi, dan budayanya agak statis dibandingkan dengan suku bangsa yang
mendiami daerah pesisir. Mereka yang berdiam di pesisir, lebih-lebih di kota
pelabuhan, menunjukkan ciri-ciri fisik dan sosial budaya yang lebih berkembang
akibat percampuran dengan bangsa dan budaya dari luar.
Dalam masa kedatangan dan
penyebaran Islam di Indonesia, terdapat negara-negara yang bercorak
Indonesia-Hindu. Di Sumatra terdapat kerajaan Sriwijaya dan Melayu; di Jawa,
Majapahit; di Sunda, Pajajaran; dan di Kalimantan, Daha dan Kutai. Agama Islam
yang datang ke Indonesia mendapat perhatian khusus dari kebanyakan rakyat yang
telah memeluk agama Hindu. Agama Islam dipandang lebih baik oleh rakyat yang
semula menganut agama Hindu, karena Islam tidak mengenal kasta, dan Islam tidak
mengenal perbedaan golongan dalam masyarakat. Daya penarik Islam bagi
pedagang-pedagang yang hidup di bawah kekuasaan raja-raja Indonesia-Hindu
agaknya ditemukan pada pemikiran orang kecil. Islam memberikan sesuatu
persamaan bagi pribadinya sebagai anggota masyarakat muslim. Sedangkan menurut
alam pikiran agama Hindu, ia hanyalah makhluk yang lebih rendah derajatnya
daripada kasta-kasta lain. Di dalam Islam, ia merasa dirinya sama atau bahkan
lebih tinggi dari pada orang-orang yang bukan muslim, meskipun dalam struktur
masyarakat menempati kedudukan bawahan.
Proses islamisasi di
Indonesia terjadi dan dipermudah karena adanya dukungan dua pihak: orang-orang
muslim pendatang yang mengajarkan agama Islam dan golongan masyarakat Indonesia
sendiri yang menerimanya. Dalam masa-masa kegoncangan politik , ekonomi, dan
sosial budaya, Islam sebagai agama dengan mudah dapat memasuki & mengisi
masyarakat yang sedang mencari pegangan hidup, lebih-lebih cara-cara yg
ditempuh oleh orang-orang muslim dalam menyebarkan agama Islam, yaitu
menyesuaikan dengan kondisi sosial budaya yang telah ada. Dengan demikian, pada
tahap permulaan islamisasi dilakukan dengan saling pengertian akan kebutuhan
& disesuaikan dengan kondisi masyarakatnya. Pembawa dan penyebar agama
Islam pada masa-masa permulaan adalah golongan pedagang, yang sebenarnya
menjadikan faktor ekonomi perdagangan sebagai pendorong utama untuk berkunjung
ke Indonesia. Hal itu bersamaan waktunya dengan masa perkembangan pelayaran dan
perdagangan internasional antara negeri-negeri di bagian barat, tenggara, dan
timur Asia. Kedatangan pedagang-pedagang muslim seperti halnya yang terjadi
dengan perdagangan sejak zaman Samudra Pasai dan Malaka yang merupakan pusat
kerajaan Islam yang berhubungan erat dengan daerah-daerah lain di Indonesia,
maka orang-orang Indonesia dari pusat-pusat Islam itu sendiri yang menjadi
pembawa dan penyebar agama Islam ke seluruh wilayah kepulauan Indonesia.
Tata cara islamisasi
melalui media perdagangan dapat dilakukan secara lisan dengan jalan mengadakan
kontak secara langsung dengan penerima, serta dapat pula terjadi dengan lambat
melalui terbentuknya sebuah perkampungan masyarakat muslim terlebih dahulu.
Para pedagang dari berbagai daerah, bahkan dari luar negeri, berkumpul dan
menetap, baik untuk sementara maupun untuk selama-lamanya, di suatu daerah,
sehingga terbentuklah suatu perkampungan pedagang muslim. Dalam hal ini orang
yang bermaksud hendak belajar agama Islam dapat datang atau memanggil mereka
untuk mengajari penduduk pribumi.
Selain itu, penyebaran
agama Islam dilakukan dgn cara perkawinan antara pedagang muslim dgn anak-anak
dari orang-orang pribumi, terutama keturunan bangsawannya. Dengan perkawinan
itu, terbentuklah ikatan kekerabatan dgn keluarga muslim.
Media seni, baik seni
bangunan, pahat, ukir, tari, sastra, maupun musik, serta media lainnya,
dijadikan pula sebagai media atau sarana dalam proses islamisasi. Berdasarkan
berbagai peninggalan seni bangunan dan seni ukir pada masa-masa penyeberan
agama Islam, terbukti bahwa proses islamisasi dilakukan dgn cara damai. Kecuali
itu, dilihat dari segi ilmu jiwa dan taktik, penerusan tradisi seni bangunan
dan seni ukir pra-Islam merupakan alat islamisasi yang sangat bijaksana dan
dengan mudah menarik orang-orang nonmuslim untuk dengan lambat-laun memeluk
Islam sebagai pedoman hidupnya.
Dalam perkembangan
selanjutnya, golongan penerima dapat menjadi pembawa atau penyebar Islam untuk
orang lain di luar golongan atau daerahnya. Dalam hal ini, kontinuitas antara
penerima dan penyebar terus terpelihara dan dimungkinkan sebagai sistem
pembinaan calon-calon pemberi ajaran tersebut. Biasanya santri-santri pandai,
yang telah lama belajar seluk-beluk agama Islam di suatu tempat dan kemudian
kembali ke daerahnya, akan menjadi pembawa dan penyebar ajaran Islam yang telah
diperolehnya. Mereka kemudian mendirikan pondok-pondok pesantren. Pondok
pesantren merupakan lembaga yang penting dalam penyebaran agama Islam.
Agama Islam juga membawa
perubahan sosial dan budaya, yakni memperhalus dan memperkembangkan budaya
Indonesia. Penyesuaian antara adat dan syariah di berbagai daerah di Indonesia
selalu terjadi, meskipun kadang-kadang dalam taraf permulaan mengalami proses
pertentangan dalam masyarakat. Meskipun demikian, proses islamisasi di berbagai
tempat di Indonesia dilakukan dengan cara yang dapat diterima oleh rakyat
setempat, sehingga kehidupan keagamaan masyarakat pada umumnya menunjukkan
unsur campuran antara Islam dengan kepercayaan sebelumnya. Hal tersebut
dilakukan oleh penyebar Islam karena di Indonesia telah sejak lama terdapat
agama (Hindu-Budha) dan kepercayaan animisme.
Pada umumnya kedatangan
Islam dan cara menyebarkannya kepada golongan bangsawan maupun rakyat umum
dilakukan dengan cara damai, melalui perdagangan sebagai sarana dakwah oleh
para mubalig atau orang-orang alim. Kadang-kadang pula golongan bangsawan
menjadikan Islam sebagai alat politik untuk mempertahankan atau mencapai
kedudukannya, terutama dalam mewujudkan suatu kerajaan Islam.
Kedatangan Islam di
berbagai daerah di Indonesia tidaklah bersamaan. Demikian pula dengan kerajaan-kerajaan
dan daerah yang didatanginya, ia mempunyai situasi politik dan sosial budaya
yang berlainan. Pada waktu kerajaan Sriwijaya mengembangkan kekuasaannya pada
sekitar abad ke-7 dan ke-8, Selat Malaka sudah mulai dilalui oleh para pedagang
muslim dalam pelayarannya ke negeri-negeri di Asia Tenggara dan Asia Timur.
Berdasarkan berita Cina zaman T’ang pada abad-abad tersebut, diduga masyarakat
muslim telah ada, baik di kanfu (kanton) maupun di daerah Sumatra sendiri.
Perkembangan pelayaran dan perdagangan yang bersifat internasional antara
negeri-negeri di Asia bagian barat atau timur mungkin disebabkan oleh kegiatan
kerajaan Islam di bawah Bani Umayah di bagian barat maupun kerajaan Cina zaman
dinasti T’ang di Asia Timur serta kerajaan Sriwijaya di Asia Tenggara. Adalah
suatu kemungkinan bahwa menjelang abad ke-10 para pedagang Islam telah menetap
di pusat-pusat perdagangan yang penting di kepulauan Indonesia, terutama di
pulau-pulau yang terletak di Selat Malaka, terusan sempit dalam rute pelayaran
laut dari negeri-negeri Islam ke Cina. Tiga abad kemudian, menurut
dokumen-dokumen sejarah tertua, permukiman orang-orang Islam didirikan di
Perlak dan Samudra Pasai di Timur Laut pantai Sumatra.
Saudagar-saudagar dari Arab
Selatan semenanjung tanah Arab yang melakukan perdagangan ke tanah Melayu
sekitar 630 M (tahun kesembilan Hijriah) telah menemui bahwa di sana banyak
yang telah memeluk Islam. Hal ini membuktikan bahwa Islam telah masuk ke
Indonesia sejak abad-abad pertama Hijriah, atau sekitar abad ke tujuh dan
kedelapan Masehi yang dibawa langsung oleh saudagar dari Arab. Dengan demikian,
dakwah Islam telah tiba di tanah Melayu sekitar tahun 630 M tatkala Nabi
Muhammad saw. masih hidup. Keterangan lebih lanjut tentang masuknya Islam ke
Indonesia ditemukan pada berita dari Marcopolo, bahwa pada tahun 1292 ia pernah
singgah di bagian utara daerah Aceh dalam perjalanannya dari Tiongkok ke Persia
melalui laut. Di Perlak ia menjumpai penduduk yang telah memeluk Islam dan
banyak para pedagang Islam dari India yang giat menyebarkan agama itu.
Para pedagang muslim
menjadi pendukung daerah-daerah Islam yang muncul kemudian, dan daerah yang
menyatakan dirinya sebagai kerajaan yang bercorak Islam ialah Samudra Pasai di
pesisir timur laut Aceh. Munculnya daerah tersebut sebagai kerajaan Islam yang
pertama diperkirakan mulai abad ke-13. Hal itu dimungkinkan dari hasil proses
islamisasi di daerah-daerah pantai yang pernah disinggahi para pedagang muslim
sejak abad ketujuh. Sultan yang pertama dari kerajaan Islam Samudra Pasai
adalah Sultan Malik al-Saleh yang memerintah pada tahun 1292 hingga 1297.
Sultan ini kemudian digantikan oleh putranya yang bernama Sultan Muhammad Malik
az-Zahir. Kerajaan Islam Samudra Pasai menjadi pusat studi agama Islam dan meru
pakan tempat berkumpul para ulama Islam dari berbagai negara Islam untuk berdis
kusi tentang masalah-masalah keagamaan dan masalah keduniawian. Berdasarkan
berita dari Ibnu Batutah, seorang pengembara asal Maroko yang mengunjungi
Samudra Pasai pada 1345, dikabarkan bahwa pada waktu ia mengunjungi kerajaan
itu, Samudra Pasai berada pada puncak kejayaannya. Dari catatan lain yang
ditinggalkan Ibnu Batutah, dapat diketahui bahwa pada masa itu kerajaan Samudra
Pasai merupakan pelabuhan yang sangat penting, tempat kapal-kapal datang dari
Tiongkok dan India serta dari tempat-tempat lain di Indonesia, singgah dan
bertemu untuk memuat dan membongkar barang-barang dagangannya.
Kerajaan Samudera Pasai
makin berkembang dalam bidang agama Islam, politik, perdagangan, dan pelayaran.
Hubungan dengan Malaka makin ramai, sehingga di Malaka pun sejak abad ke-14
timbul corak masyarakat muslim. Perkembangan masyarakat muslim di Malaka makin
lama makin meluas dan akhirnya pada awal abad ke-15 berdiri kerajaan Islam
Malaka. Para penganut agama Islam diberi hak-hak istimewa, bahkan telah
dibangunkan sebuah masjid untuk mereka. Para pedagang yang singgah di Malaka
kemudian banyak yang menganut agama Islam dan menjadi penyebar agama Islam ke
seluruh kepulauan Nusantara, tempat mereka mengadakan transaksi perdagangan.
Kerajaan Malaka pertama
kali didirikan oleh Paramisora pada abad ke-15. Menurut cerita, sesaat sebelum
meninggal dalam tahun 1414, Paramisora masuk Islam, kemudian berganti nama
menjadi Iskandar Syah. Selanjutnya, kerajaan Malaka dikembangkan oleh putranya
yang bernama Muhammad Iskandar Syah (1414–1445). Pengganti Muhammad Iskandar
Syah adalah Sultan Mudzafar Syah (1445–1458). Di bawah pemerintahannya, Malaka
menjadi pusat perdagangan antara Timur dan Barat, dengan kemajuan-kemajuan yang
sangat pesat, sehingga jauh meninggalkan Samudra Pasai. Usaha mengembangkan
Malaka hingga mencapai puncak kejayaannya dilakukan oleh Sultan Mansyur Syah
(1458–1477) sampai pd masa pemerintahan Sultan Alaudin Syah (1477–1488).
Sementara itu, kedatangan
pengaruh Islam ke wilayah Indonesia bagian timur (Sulawesi dan Maluku) tidak
dapat dipisahkan dari jalur perdagangan yang terbentang antara pusat lalu
lintas pelayaran internasional di Malaka, Jawa, dan Maluku. Menurut tradisi setempat,
sejak abad ke-14, Islam telah sampai ke daerah Maluku. Disebutkan bahwa
kerajaan Ternate ke-12, Molomateya (1350–1357), bersahabat karib dengan orang
Arab yg memberinya petunjuk dalam pembuatan kapal, tetapi agaknya tidak dalam
kepercayaan.
Pada masa pemerintahan
Marhum di Ternate, datanglah seorang raja dari Jawa yang bernama Maulana Malik
Husayn yang menunjukkan kemahiran menulis huruf Arab yang ajaib seperti yang
tertulis dalam Alquran. Hal ini sangat menarik hati Marhum dan orang-orang di
Maluku. Kemudian, ia diminta oleh mereka agar mau mengajarkan huruf-huruf yang
indah itu. Sebaliknya, Maulana Malik Husayn mengajukan permintaan, agar mereka
tidak hanya mempelajari huruf Arab, melainkan pula diharuskan mempelajari agama
Islam. Demikianlah Maulana Malik Husayn berhasil mengislamkan orang-orang
Maluku. Raja Ternate yang dianggap benar-benar memeluk Islam adalah Zainal
Abidin (1486–1500).
Dari ketiga pusat kegiatan
Islam itulah, maka Islam menyebar dan meluas memasuki pelosok-pelosok kepulauan
Nusantara. Penyebaran yang nyata terjadi pada abad ke-16. Dari Malaka, daerah
Kampar, Indragiri, dan Riau menjadi Islam. Dari Aceh, Islam meluas sampai ke
Minangkabau, Bengkulu, dan Jambi. Dimulai sejak dari Demak, maka sebagian besar
Pulau Jawa telah menganut agama Islam.
Banten yang diislamkan oleh
Demak meluaskan dan menyebarkan Islam ke Sumatra Selatan. Di Kalimantan,
kerajaan Brunai yang pada abad ke-16 menjadi Islam, meluaskan penyebaran Islam
di bagian barat Kalimantan dan Filipina. Sedangkan Kalimantan Selatan
mendapatkan pengaruh Islam dari daratan Jawa. Dari Ternate semakin meluas
meliputi pulau-pulau di seluruh Maluku serta daerah pantai timur Sulawesi. Pada
abad ke-16 di Sulawesi Selatan berdiri kerajaan Goa. Demikianlah pada akhir
abad ke-16 dapat dikatakan bahwa Islam telah tersebar dan mulai meresapkan
akar-akarnya di seluruh Nusantara.
Meresapnya Islam di
Indonesia pada abad ke-16 itu bersamaan pula dengan ditanamkannya benih-benih
agama Katolik oleh orang-orang Portugis. Bangsa Portugis ini dikenal sebagai
penentang Islam dan pemeluk agama Katolik fanatik. Maka, di setiap tempat yang
mereka datangi, di sanalah mereka berusaha mendapatkan daerah tempat persemaian
bagi agama Katolik. Hal ini menurut tanggapan mereka merupakan suatu tugas dan
kewajiban yang mendapat dorongan dari pengalaman mereka menghadapi Islam di
negeri mereka sendiri. Ketika pertahanan Islam terakhir di Granada jatuh pada
1492, maka dalam usaha mereka mendesak agama Islam sejauh mungkin dari Spanyol
dan Portugis, mereka memperluas gerakannya sampai Timur Tengah yang waktu itu
menjadi daerah perantara perdagangan rempah-rempah yang menghubungkan Timur
dengan Barat. Timbullah kemudian suatu hasrat dalam jiwa dagang mereka untuk
berusaha sendiri mendapatkan rempah-rempah yang menjadi pokok perdagangan waktu
itu langsung dari daerah penghasilnya (Nusantara). Dengan demikian, mereka
tidak akan bergantung lagi kepada pedagang-pedangan Islam di Timur Tengah.
Pesisir - Dulu
Penyebaran
Islam di Nusantara adalah proses menyebarnya agama Islam di Nusantara (sekarang
Indonesia). Islam dibawa ke Nusantara oleh pedagang dari Gujarat, India selama
abad ke-11, meskipun Muslim telah mendatangi Nusantara sebelumnya.[butuh
rujukan] Pada akhir abad ke-16, Islam telah melampaui jumlah penganut Hindu dan
Buddhisme sebagai agama dominan bangsa Jawa dan Sumatra. Bali mempertahankan
mayoritas Hindu, sedangkan pulau-pulau timur sebagian besar tetap menganut
animisme sampai abad 17 dan 18 ketika agama Kristen menjadi dominan di daerah
tersebut.
Penyebaran
Islam di Nusantara pada awalnya didorong oleh meningkatnya jaringan perdagangan
di
luar kepulauan Nusantara. Pedagang dan bangsawan dari kerajaan besar
Nusantara
biasanya adalah yang pertama mengadopsi Islam. Kerajaan yang
dominan,
termasuk Kesultanan Mataram (di Jawa Tengah sekarang), dan Kesultanan Ternate
dan Tidore di Kepulauan Maluku di timur. Pada akhir abad ke-13, Islam telah
berdiri di Sumatera Utara, abad ke-14 di timur laut Malaya, Brunei, Filipina
selatan, di antara beberapa abdi kerajaan di Jawa Timur, abad ke-15 di Malaka
dan wilayah lain dari Semenanjung Malaya (sekarang Malaysia).
Meskipun
diketahui bahwa penyebaran Islam dimulai di sisi barat
Nusantara,
kepingan-kepingan bukti yang ditemukan tidak menunjukkan
gelombang
konversi bertahap di sekitar setiap daerah Nusantara,
melainkan
bahwa proses konversi ini rumit dan lambat.
Meskipun
menjadi salah satu perkembangan yang paling signifikan dalam
sejarah
Indonesia, bukti sejarah babak ini terkeping-keping dan umumnya
tidak
informatif sehingga pemahaman tentang kedatangan Islam ke
Indonesia
sangat terbatas. Ada perdebatan di antara peneliti tentang apa
kesimpulan
yang bisa ditarik tentang konversi masyarakat Nusantara kala
itu.[1]:3
Bukti utama, setidaknya dari tahap-tahap awal proses konversi ini, adalah batu
nisan
dan
beberapa kesaksian peziarah, tetapi bukti ini hanya dapat
menunjukkan
bahwa umat Islam pribumi ada di tempat tertentu pada waktu
tertentu.
Bukti ini tidak bisa menjelaskan hal-hal yang lebih rumit
seperti
bagaimana gaya hidup dipengaruhi oleh agama baru ini, atau
seberapa
dalam Islam mempengaruhi masyarakat. Dari bukti ini tidak bisa diasumsikan,
bahwa
karena penguasa saat itu dikenal sebagai seorang Muslim, maka
proses
Islamisasi daerah itu telah lengkap dan mayoritas penduduknya
telah
memeluk Islam; namun proses konversi ini adalah suatu proses yang
berkesinambungan
dan terus berlangsung di Nusantara, bahkan tetap
berlangsung
sampai hari ini di Indonesia modern. Namun demikian, titik balik yang jelas
terjadi adalah ketika Kerajaan Hindu Majapahit di Jawa dihancurkan oleh
Kerajaan Islam Demak. Pada 1527, pemimpin perang Muslim Fatahillah mengganti
nama Sunda Kelapa yang baru ditaklukkannya sebagai "Jayakarta"
(berarti "kota kemenangan") yang akhirnya seiring waktu menjadi
"Jakarta". Asimilasi budaya Nusantara menjadi Islam kemudian
meningkat dengan cepat setelah penaklukan ini.
Perkembangan Pesisir - Dulu
Pada
zaman dahulu masyarakat disekitar daerah pesisir berpegang teguh pada
kepercayaan Animisme dan DInamisme. berikut merupakan penjelasannya,
Pengertian Animisme
Pengertian
Animisme Secara umum dan Pengertian Animisme menurut definisi para ahli
mengatakan bahwa Pengertian Animisme adalah kepercayaan bahwa roh (jiwa) itu
tidak hanya berada pada makhluk hidup, tetapi juga pada benda-benda tertentu.
Roh-roh itu dapat berbuat baik, tetapi juga dapat berbuat jahat.
Manusia
perlu memujanya sambil memberi sesajen agar roh itu tidak berbuat jahat.
Apabila manusia mari maka rohnya meninggalkan badan untuk selama-lamanya. Roh
yang meinggalkan badan manusia untuk selamanya itu disebut arwah. Menurut
kepercayaan, arwah tersebut hidup terus di negeri arwah serupa dengan hidup
manusia.
Animisme
berasal dari bahasa latin yaitu anima yang berarti Roh, kepercayaan animisme
adalah suatu kepercayaan bahwa segala sesuatu yang ada dibumi baik itu hidup
ataupun mati mempunyai roh. Kepercayaan animisme mempercayai bahwa setiap benda
di Bumi ini (seperti kawasan tertentu, gunung, laut, sungai, gua, pohon dan
batu besar) memiliki jiwa yang harus dihormati agar tidak mengganggu manusia,
Tetapi malah membantu kehidupan mereka.
Menghormati
dengan cara melakukan pemujaan dan memberikan sesaji biasa di lakukan oleh
penganut animisme. Bagian dari kepercayaan ini adalah adanya roh-roh orang yang
telah meninggal, kepercayaan ini mempercayai jika roh orang yang telah
meninggal dapat masuk ke tubuh hewan.
Mereka
dianggap pula dapat berdiam di dalam kubur sehingga mereka ditakuti. Oleh
masyarakat saat itu, arwah orang-orang terkemuka seperti kepala suku dan nenek
moyang dianggap suci. Oleh karena itu, orang-orang terkemuka itu dihormati.
Dengan demikian, timbullah kepercayaan yang memuja arwah dari nenek moyang yang
disebut animisme. Karena arwah itu tinggal di dunia arwah (kahyangan) yang
letaknya di atas gunung maka tempat pemujaan arwah pada zaman Megalithikum juga
dibangun di atas gunung atau bukit. Budaya ini terus berlanjut hingga masa
Hindu-Buddha dan Islam.
Pengertian Dinamisme
Dinamisme
berasal dari bahasa yunani dunamos yang mempunyai arti kekuatan atau daya,
Kepercayaan dinamisme adalah kepercayaan yang menyakini bahwa semua benda-benda
yang ada di dunia ini baik hidup atau mati mempunyai daya dan kekuatan ghaib.
Benda-benda tersebut dipercaya dapat memberi pengaruh baik dan pengaruh buruk
bagi manusia.
Benda-benda
yang dianggap mempunyai kekuatan contohnya : Benda pusaka, tombak, keris,
gamelan dan lambang kerajaan.
Animisme
dan Dinamisme merupakan kepercayaan yang sudah ada sejak zaman manusia purba
Dan memiliki akar budaya yang kuat di indonesia, hingga saat ini masih ada
masyarakat yang mempercayai kepercayaan ini.
Setelah masa animisme dan dinamisme, masuklah masa dimana agama
Islam memasuki negara Indonesia, termasuk di daerah pesisir. Salah satu
contohnya, yaitu di daerah Aceh.
Penyebaran
Islam di Nusantara adalah proses menyebarnya agama Islam di Nusantara
(Indonesia). Islam dibawa ke Nusantara oleh pedagang dari Gujarat, India selama
abad ke-11, meskipun Muslim telah mendatangi Nusantara sebelumnya.Pada akhir
abad ke-16, Islam telah melampaui jumlah penganut Hindu dan Buddhisme sebagai
agama dominan bangsa Jawa dan Sumatra. Bali mempertahankan mayoritas Hindu,
sedangkan pulau-pulau timur sebagian besar tetap menganut animisme sampai abad
17 dan 18 ketika agama Kristen menjadi dominan di daerah tersebut.
Penyebaran
Islam di Nusantara pada awalnya didorong oleh meningkatnya jaringan perdagangan
di luar kepulauan Nusantara. Pedagang dan bangsawan dari kerajaan besar
Nusantara biasanya adalah yang pertama mengadopsi Islam. Kerajaan yang dominan,
termasuk Kesultanan Mataram (di Jawa Tengah sekarang), dan Kesultanan Ternate
dan Tidore di Kepulauan Maluku di timur. Pada akhir abad ke-13, Islam telah
berdiri di Sumatera Utara, abad ke-14 di timur laut Malaya, Brunei, Filipina
selatan, di antara beberapa abdi kerajaan di Jawa Timur, abad ke-15 di Malaka
dan wilayah lain dari Semenanjung Malaya (sekarang Malaysia).
Meskipun
diketahui bahwa penyebaran Islam dimulai di sisi barat Nusantara,
kepingan-kepingan bukti yang ditemukan tidak menunjukkan gelombang konversi
bertahap di sekitar setiap daerah Nusantara, melainkan bahwa proses konversi
ini rumit dan lambat.
Meskipun
menjadi salah satu perkembangan yang paling signifikan dalam sejarah Indonesia,
bukti sejarah babak ini terkeping-keping dan umumnya tidak informatif sehingga
pemahaman tentang kedatangan Islam ke Indonesia sangat terbatas. Ada perdebatan
di antara peneliti tentang apa kesimpulan yang bisa ditarik tentang konversi
masyarakat Nusantara kala itu.[1]:3 Bukti utama, setidaknya dari tahap-tahap
awal proses konversi ini, adalah batu nisan dan beberapa kesaksian peziarah,
tetapi bukti ini hanya dapat menunjukkan bahwa umat Islam pribumi ada di tempat
tertentu pada waktu tertentu. Bukti ini tidak bisa menjelaskan hal-hal yang
lebih rumit seperti bagaimana gaya hidup dipengaruhi oleh agama baru ini, atau
seberapa dalam Islam mempengaruhi masyarakat.
Dari
bukti ini tidak bisa diasumsikan, bahwa karena penguasa saat itu dikenal
sebagai seorang Muslim, maka proses Islamisasi daerah itu telah lengkap dan
mayoritas penduduknya telah memeluk Islam; namun proses konversi ini adalah
suatu proses yang berkesinambungan dan terus berlangsung di Nusantara, bahkan
tetap berlangsung sampai hari ini di Indonesia modern. Namun demikian, titik
balik yang jelas terjadi adalah ketika Kerajaan Hindu Majapahit di Jawa
dihancurkan oleh Kerajaan Islam Demak. Pada 1527, pemimpin perang Muslim
Fatahillah mengganti nama Sunda Kelapa yang baru ditaklukkannya sebagai
"Jayakarta" (berarti "kota kemenangan") yang akhirnya
seiring waktu menjadi "Jakarta". Asimilasi budaya Nusantara menjadi
Islam kemudian meningkat dengan cepat setelah penaklukan ini.
Perkembangan
Pesisir - Sekarang
Masuknya
Islam ke Indonesia ada yang mengatakan dari India, dari Persia, atau dari Arab.
Dan jalur yang digunakan adalah: a. Perdagangan, yang
mempergunakan sarana pelayaran b. Dakwah, yang dilakukan oleh
mubaligh yang berdatangan bersama para pedagang, para mubaligh itu bisa
dikatakan sebagai sufi pengembara. c. Perkawinan, yaitu
perkawinan antara pedagang muslim, mubaligh dengan anak bangsawan Indonesia,
yang menyebabkan terbentuknya inti sosial yaitu keluarga muslim dan masyarakat
muslim. d. Pendidikan. Pusat-pusat perekonomian itu berkembang
menjadi pusat pendidikan dan penyebaran Islam. e. Kesenian.
Jalur yang banyak sekali dipakai untuk penyebaran Islam terutama di Jawa adalah
seni.
Bentuk
agama Islam itu sendiri mempercepat penyebaran Islam, apalagi sebelum masuk ke
Indonesia telah tersebar terlebih dahulu ke daerah-daerah Persia dan India,
dimana kedua daerah ini banyak memberi pengaruh kepada perkembangan kebudayaan
Indonesia. Dalam perkembangan agama Islam di daerah Aceh, peranan mubaligh
sangat besar, karena mubaligh tersebut tidak hanya berasal dari Arab, tetapi
juga Persia, India, juga dari Negeri sendiri. Lalu kemudian agama islam semakin
berkembang luas yang sala satunya dikarenakan agama tersebut dipeluk secara
turun temurun.
Itulah
sebab mengapa mayoritas masyarakat Aceh memeluk agama Islam.
Perkembangan
Pegunungan - Dulu
Pada
zaman dahulu masyarakat disekitar daerah pegunungan berpegang teguh pada
kepercayaan Animisme dan DInamisme. berikut merupakan penjelasannya,
Pengertian Animisme
Pengertian
Animisme Secara umum dan Pengertian Animisme menurut definisi para ahli
mengatakan bahwa Pengertian Animisme adalah kepercayaan bahwa roh (jiwa) itu
tidak hanya berada pada makhluk hidup, tetapi juga pada benda-benda tertentu.
Roh-roh itu dapat berbuat baik, tetapi juga dapat berbuat jahat.
Manusia
perlu memujanya sambil memberi sesajen agar roh itu tidak berbuat jahat.
Apabila manusia mari maka rohnya meninggalkan badan untuk selama-lamanya. Roh
yang meinggalkan badan manusia untuk selamanya itu disebut arwah. Menurut
kepercayaan, arwah tersebut hidup terus di negeri arwah serupa dengan hidup
manusia.
Animisme
berasal dari bahasa latin yaitu anima yang berarti Roh, kepercayaan animisme
adalah suatu kepercayaan bahwa segala sesuatu yang ada dibumi baik itu hidup
ataupun mati mempunyai roh. Kepercayaan animisme mempercayai bahwa setiap benda
di Bumi ini (seperti kawasan tertentu, gunung, laut, sungai, gua, pohon dan
batu besar) memiliki jiwa yang harus dihormati agar tidak mengganggu manusia,
Tetapi malah membantu kehidupan mereka.
Menghormati
dengan cara melakukan pemujaan dan memberikan sesaji biasa di lakukan oleh
penganut animisme. Bagian dari kepercayaan ini adalah adanya roh-roh orang yang
telah meninggal, kepercayaan ini mempercayai jika roh orang yang telah
meninggal dapat masuk ke tubuh hewan.
Mereka
dianggap pula dapat berdiam di dalam kubur sehingga mereka ditakuti. Oleh
masyarakat saat itu, arwah orang-orang terkemuka seperti kepala suku dan nenek
moyang dianggap suci. Oleh karena itu, orang-orang terkemuka itu dihormati.
Dengan demikian, timbullah kepercayaan yang memuja arwah dari nenek moyang yang
disebut animisme. Karena arwah itu tinggal di dunia arwah (kahyangan) yang
letaknya di atas gunung maka tempat pemujaan arwah pada zaman Megalithikum juga
dibangun di atas gunung atau bukit. Budaya ini terus berlanjut hingga masa
Hindu-Buddha dan Islam.
Pengertian Dinamisme
Dinamisme
berasal dari bahasa yunani dunamos yang mempunyai arti kekuatan atau daya,
Kepercayaan dinamisme adalah kepercayaan yang menyakini bahwa semua benda-benda
yang ada di dunia ini baik hidup atau mati mempunyai daya dan kekuatan ghaib.
Benda-benda tersebut dipercaya dapat memberi pengaruh baik dan pengaruh buruk bagi
manusia.
Benda-benda
yang dianggap mempunyai kekuatan contohnya : Benda pusaka, tombak, keris,
gamelan dan lambang kerajaan.
Animisme
dan Dinamisme merupakan kepercayaan yang sudah ada sejak zaman manusia purba
Dan memiliki akar budaya yang kuat di indonesia, hingga saat ini masih ada
masyarakat yang mempercayai kepercayaan ini.
Perkembangan
Pegunungan - Sekarang
Sebagian
penduduk di pegunungan sekarang masih berpegang teguh pada kepercayaan Animisme
dan Dinamisme, dikarnakan mereka menghargai para leluhur atau pemimpin yang
sudah tiada lebih awal didbanding mereka yang masih hidup hingga saat ini.
namun ada beberapa penduduk yang sudah mulai meninggalkan kepercayaan tersebut
dan beralih ke kepercayaan seperti keagamaan Islam, Kristen, Hindu, Budha dan
lain-lain.
KESIMPULAN.
Islam
datang ke Indonesia ketika pengaruh Hindu dan Buddha masih kuat. Kala itu,
Majapahit masih menguasai sebagian besar wilayah yang kini termasuk wilayah
Indonesia. Masyarakat Indonesia berkenalan dengan agama dan kebudayaan Islam
melalui jalur perdagangan, sama seperti ketika berkenalan dengan agama Hindu
dan Buddha. Melalui aktifitas niaga,masyarakat Indonesia yang sudah mengenal
Hindu-Buddha lambat laun mengenal ajaranIslam. Persebaran Islam ini pertama
kali terjadi pada masyarakat pesisir laut yang lebih terbukaterhadap budaya
asing. Setelah itu, barulah Islam menyebar ke daerah pedalaman
dan pegunungan melalui aktifitas ekonomi, pendidikan, dan politik.
SUMBER

