TUGAS ILMU BUDAYA DASAR 1
NAMA : Mochamad Fauzan Ramdani Lapadengan
NPM :
54418166
Kelas :
1IA04
Ulasan Mengenai Pengaruh Kondisi Geografis Terhadap
Pembetukan Budaya Disekitar Taman Laut Nasional Bunaken
Manusia satu yang bersatu dengan manusia lainnya
dalam suatu wilayah tertentu akan membentuk sebuah masyarakat. Dari masyarakat
inilah akan lahir nilai-nilai bermasyarakat yang berkembang menjadi kebudayaan.
Kebudayaan masyarakat di daerah tertentu akan berbeda dengan kebudayaan
masyarakat di daerah lain. Karena setiap kelompok masyarakat memiliki aspek
nilai yang berbeda. Dan kebudayaan juga dipengaruhi oleh faktor bahasa, keadaan
geografis, dan kepercayaan.
Secara etimologis kebudayaan berasal dari bahasa
Sansekerta “budhayah”, yaitu bentuk jamak dari budhi yang berarti budi atau
akal. Sedangkan, ahli antropologi yang memberikan definisi tentang kebudayaan
secara sistematis dan ilmiah adalah E.B. Tylor dalam buku yang berjudul
“Primitive Culture”, bahwa kebudayaan adalah keseluruhan kompleks yang di
dalamnya terkandung ilmu pengetahuan lain, serta kebiasaan yang didapat manusia
sebagai anggota masyarakat. Pendapat dua antropolog yang lainnya, yatu Melvile
J. Herkovits dan Bronislaw Malinowski yang mengemukakan pengertian “Cultural
Determinism” yang berarti bahwa segala sesuatu yang terdapat di dalam
masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu
sendiri. Secara umum, budaya atau kebudayaan adalah suatu cara hidup yang
berkembang, dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang, dan diwariskan
dari generasi ke generasi.
a) Unsur – Unsur Kebudayaan
Kebudayaan setiap
masyarakat tentu terdiri dari unsur-unsur tertentu, yang merupakan bagian dari
suatu kebulatan, yakni kebudayan itu sendiri. Ada beberapa pendapat ahli
tentang unsur – unsur kebudayaan.
Clyde kluckhohn
menyebutkan 7 unsur kebudayaan, yakni:
1. Peralatan dan perlengkapan hidup manusia
(pakaian, rumah, alat - alat rumah tangga, senjata, alat - alat rumah produksi
dan transportasi).
2. Mata pencarian hidup
dan sistem - sistem ekonomi ( pertanian, peternakan, sistem produksi, dan
sistem distribusi).
3. Sistem kemasyarakatan (sistem kekerabatan,
organisasi, politik, sistem hukum, dan sistem perkawinan).
4. Bahasa (lisan maupun tertulis).
5. Kesenian (seni rupa, seni sastra dan seni
gerak).
6. Sistem pengetahuan.
7. Sistem kepercayaan (religi).
b) Karakteristik Kebudayaan
Secara umum kebudayaan
memiliki beberapa karakteristik umum, karakteristik umum tersebut, yaitu :
1. Kebudayaan adalah milik bersama
Unsur kebudayaan/ide,
nilai, pola merupakan sesuatu yang dijalankan bersama-sama oleh anggota
masyarakat.
Contohnya : gotong
royong, musyawarah mufakat.
2. Kebudayaan merupakan hasil belajar
Secara unsure hasil
kebudayaan merupakan hasil dari belajar dan bukan warisan biologis (dibawa
sejak lahir).
3. Kebudayaan didasari pada lambang
Penggunaan
lambing-lambang tertentu biasanya dilakukan ooleh manusia, kekuasaan dan
ketaatan individu dibangkitkan juga oleh lambing tertentu.
Pada suatu daerah
tertentu kebiasaan dapat mempengaruhi
masyarakat yang mana tinggal di daerah tersebut contoh masyarakat yang
tinggal di dekat Taman Laut Nasional Bunaken Manado. Penyebabnya salah satunya,
yaitu kondisi geografis. Kondisi geografis dari taman nasional Bunaken, yaitu Pulau Bunaken termasuk dalam wilayah perairan
“Segi Tiga Emas“. Lebih dari sekitar 3000-an spesies ikan berada di
Bunaken.Wilayah “Segi Tiga Emas” adalah jalur perairan laut yang menghubungkan
laut Filipina, laut Papua, dan laut Indonesia.
Taman Nasional
Bunakenpun ditunjuk oleh Menteri Kehutanan sebagai taman nasional pada tahun
1991. Obyek wisata ini luas sekitar 89.065 hektare, berada di wilayah Kabupaten
Minahasa, Kotamadya Manado, Sulawesi Utara. Di sebelah utara taman nasional,
ada pulau Bunaken, Manado Tua, Montehage, Siladen, Nain, Nain Kecil, dan
sebagian wilayah pesisir Tanjung Pisok. Sementara di bagian selatan, meliputi
sebagian pesisir Tanjung Kelapa.
Lokasi ini merupakan
perwakilan ekosistem perairan tropis Indonesia yang terdiri dari ekosistem
hutan bakau, padang lamun, terumbu karang, dan ekosistem daratan atau pesisir.
Pulau-pulau di dalamnya kaya akan flora dan fauna. Perairan Taman Nasional
Bunaken memiliki 13 genera (genus) karang hidup yang didominasi oleh jenis
terumbu karang tepi dan terumbu karang penghalang. Tercatat sekitar 91 jenis
ikan yang hidup di perairan ini, diantaranya ikan kuda gusumi (Hippocampus
kuda), oci putih (Seriola rivoliana), lolosi ekor kuning (Lutjanus kasmira),
goropa (Ephinephelus spilotoceps dan Pseudanthias hypselosoma), ila gasi
(Scolopsis bilineatus).
- Penduduk sekitar dan Budayanya
Perkembangan
budaya yang terjadi di sekitar Taman Nasional Bunaken yang mana dimana
masyarakat yang tinggal di sana. Penduduk Pulau bunaken umumnya merupakan
keturunan dari sangihe dan Talaud keseharian mereka menggunakan Bahasa Sangir.
Sebagian besar penduduknya beragama Kriste dan Sebagian kecil adalah beragama
islam yang biasanya adalah penduduk yang berasal dari Bajo atau Gorontalo.
Pulau Bunaken memiliki perkembangan sarana pendidikan hingga sekolah menengah
pertama. Sebagian Besar masyarakat di Pulau Bunakane merupakan petani ,nelayan
atau keduanya. Petani di kawasan ini menanam kelapa, ubi kayu, ubi jalar, dan
pisang. Serta ada juga budidaya rumput laut, serta sebagian kecil penduduk yang
tinggal di sana berkerja sebagai pemandu wisata, awak perahu dan pekerja di
pondok pondok wisata. ( Sumber SBKSDA, 1996.).
Untuk
dapat mengakses Pulau Bunaken yang terletak sekitar 7 mil dari Pelabuhan Manado
yang dapat ditempuh 35 menit dari pusat kota dengan menggunakan kapal motor.
Umumnya parawisatawan yang berkunjung ke Pulau Bunaken untuk melalukan wisata
seperti menikmati taman laut dengan cara diving, snorkeling, berkeliling, serta
naik perahu berkaca (katamaran).
Karena
letak geografis tersebut Pulau bunaken hanya di jadikan sebagai tempat wisata
karena keindahan bawah laut nya yang sudah terbukti. Serta karena letaknya
tersebut juga masyarakat yang tinggal di
Pulau Bunaken hanya dapat melalukan kegiatan/budaya sehari hari dengan
memancing dan bertani karena keterbatasan lahan.tetapi masyarakat yang tinggal
di sana sangat senang dengan melihat
wisatawan yang pergi kenasan bukan hanya untuk menikmati keindahan lautnya
tetapi juga memahami budaya tentang masyarakat yang tinggal di sana.
- Penduduk Sekitar dan Budayanya
Permukiman di Sekitar Taman Nasional Laut Bunaken
Penduduk lokal berasal dari tujuh kelompok etnik.
Penduduk berasal dari suku yang berbeda-beda, di antaranya mayoritas berasal
dari Sangihe. Suku lainnya berasal dari Gorontalo, Minahasa, Bajo, dan Bugis.
Interakasi antar suku relatif tinggi sehingga friksi yang terjadi kemungkinan
sangat rendah.
Melayu-Minahasa adalah bahasa penghubung (lingua
franca) antar penduduk. Penduduk dapat memberikan akses sumber daya kepada
nelayan dari kawasan luar.
Penduduk sering memberikan nama semua daerah yang
dimanfaatkan oleh nelayan, seperti terumbu karang, teluk, ceruk, dan tanda alam
lainnya.
Mata pencaharian penduduk bersifat musiman, pada
musim hujan yaitu Bulan September-Desember melakukan kegiatan pertanian.
Memasuki bulan kemarau pada Bulan Januari-Juli umumnya penduduk melaut.
Sejumlah sekitar lebih dari 60% penduduk umumnya memiliki pekerjaan sebagai
petani. Namun, tetaplah perikanan menjadi aktivitas utama penduduk, seperti
pemanfaatan rumput laut (Euchema sp.) terutama di Pulau Nain.
Pemanfaatan wilayah wisata oleh penduduk lokalnya
bergantung pada pola nafkah dan aspek sosialnya. Kepemilikan tanah di dalam
kawasan bersifat tradisional dan belum memilki sertifikat resmi. Kalangan
masyarakat lokal di sekitar kawasan tidak mengenal kepemilikan tradisional atau
sistem tenure atas sumber daya atau habitat pesisir laut.
Pemanfaatan tanah untuk lahan kebun yang ekstensif
terdapat di Pulau Manado Tua dan Bunaken, berupa kelapa, sayuran, dan tanaman
pangan (sperti singkong dan umbi). Siklus pemanfaatan tanah di Pulau Siladen
didominasi oleh lahan-lahan kebun kelapa. Pulau Mantehage ditanami tumbuhan
kombinasi antara lahan kebun kelapa dan ladang.
Di Pulau Nain didominasi oleh kegiatan bertani
rumput laut dan perikanan. Terdapat pula penangkapan ikan dan terumbu karang
dengan praktik bubu, panah, jaring sederhana, dan pancing.
Penduduk lokal tersebar di lima pulau besar meliputi
pulau yang dihuni oleh Suku Minahasa, Suku Sangir Talaud, dan Suku Bajau.
Sebagian besar penduduk lokal menganut agama Kristen Protestan.
Kebudayaanya mayoritas di dominasi oleh Suku Talaud
yang menyebut kepala dengan sebutan Opo lao. Adat tradisional suku Talaud yang
masih terjaga hingga sekarang yaitu melakukan selamatan rumah baru dengan
upacara Masamper.
Upacara ini dilakukan dengan cara menyanyi sambil
menyentakkan kaki dengan syair lagu yang cukup panjang dan melakukan tari Ampa
Wayer. Tarian ini meniru-niru pesawat terbang dan biasanya disertai dengan
minum alkohol.
Selain itu, adat tradisional Minahasa yaitu Miramba
berupa tarian yang memuja Tuhan atas kebaikan dan berkahnya. Kebudayaan
penduduk sebagian besar dipengaruhi oleh budaya kota Manado, yaitu budaya
Minahasa. Budaya adat tradisional Minahasa lainnya antara lain tari Maengket
dan Cakalele yang sering digunakan pada acara resmi kenegaraan, menyambut tamu,
dan pengukuhan kepala adatnya, yaitu Tonaas.
Sejarah Taman Nasional
Bunaken
Taman Nasional Laut Bunaken dalam perkembangannya
tidak berdiri secara langsung. Sejarah dari tahapan perkembangan Taman Nasional
Bunaken berlangsung secara bertahap. Berikut ini runtutan sejarah terbentuknya
Taman Nasional Laut Bunaken.Tahun 1975
Tahun 1975 mulai ditemukannya kawasan Taman Nasional
Laut Bunaken. Keadaannya alamnya masih tenang dan damai memberi nuansa lain
dari kehidupan hiruk pikuk kebisingan kota. Kawasan ini memiliki daya tarik
tersendiri dengan keindahan alam yang sungguh memesona.
Tahun 1980
Tahun 1980 berdasarkan surat keputusan Gubernur No.
224 tahun 1980 kawasan Pulau Bunaken dan perairannya dijadikan pengembangan
kawasan Wisata Laut Manado (Taman Laut Manado).
Tahun 1984
Tahun 1984 berdasarkan surat keputusan Gubernur No.
201 Tahun 1984 diadakan perluasan kawasan laut Wisata Manado yaitu
ditambahkannya Arakan-wawontulap.
Tahun 1986
Tahun 1986 dikelauarkan surat Keputusan Menteri
Kehutanan No. 328/Kpts-II/1986 tentang penetapan Cagar Alam Laut Bunaken Manado
Tua yang mencakup Pulau Bunaken, Pulau Manado Tua serta perairan dan wilayah
pesisir di sekitar Tanjung Pisok (sebelah Utara Teluk Manado).
Tahun 1989
Tahun 1989 pada tanggal 1 April dikeluarkan surat
pernyataan Menteri Kehutanan No. 444/Menhut-II/1989 tentang penetapan kawasan
Taman Nasional Laut Bunaken Manado Tua yang meliputi Pulau Bunaken, Pulau
Manado Tua serta perairan dan pesisir di sekitar Tanjung Pisok dan sekitar
Wilayah Pesisir Arakan-Wawontulap. Pada 15 Oktober 1981 dikeluarkan Surat
Keputusan Resmi Kehutanan No. 730/Kpts-II/91 untuk mengukuhkan penetapan status
Kawasan Taman Nasional Laut Bunaken Manado Tua. Taman Nasioanal Laut Bunaken
telah ditetapkan sebagai kawasan Sister Parks (Kerjasama Indonesia-Malaysia).
Tahun 2005
Tahun 2005 Taman Nasioanal Laut Bunaken resmi
menjadi warisan dunia yang ditetapkan oleh United Nations of Educational,
Scientific, and Cultural Organization (UNESCO).
Sumber :
https://blackkboo.wordpress.com/2016/08/09/taman-nasional-bunaken/https://foresteract.com/taman-nasional-bunaken/

