Tuesday, April 9, 2019

Tugas IBD 1


TUGAS ILMU BUDAYA DASAR 1
NAMA : Mochamad Fauzan Ramdani Lapadengan
NPM    : 54418166
Kelas   : 1IA04

Ulasan Mengenai Pengaruh Kondisi Geografis Terhadap Pembetukan Budaya Disekitar Taman Laut Nasional Bunaken



Manusia satu yang bersatu dengan manusia lainnya dalam suatu wilayah tertentu akan membentuk sebuah masyarakat. Dari masyarakat inilah akan lahir nilai-nilai bermasyarakat yang berkembang menjadi kebudayaan. Kebudayaan masyarakat di daerah tertentu akan berbeda dengan kebudayaan masyarakat di daerah lain. Karena setiap kelompok masyarakat memiliki aspek nilai yang berbeda. Dan kebudayaan juga dipengaruhi oleh faktor bahasa, keadaan geografis, dan kepercayaan.
Secara etimologis kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta “budhayah”, yaitu bentuk jamak dari budhi yang berarti budi atau akal. Sedangkan, ahli antropologi yang memberikan definisi tentang kebudayaan secara sistematis dan ilmiah adalah E.B. Tylor dalam buku yang berjudul “Primitive Culture”, bahwa kebudayaan adalah keseluruhan kompleks yang di dalamnya terkandung ilmu pengetahuan lain, serta kebiasaan yang didapat manusia sebagai anggota masyarakat. Pendapat dua antropolog yang lainnya, yatu Melvile J. Herkovits dan Bronislaw Malinowski yang mengemukakan pengertian “Cultural Determinism” yang berarti bahwa segala sesuatu yang terdapat di dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Secara umum, budaya atau kebudayaan adalah suatu cara hidup yang berkembang, dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang, dan diwariskan dari generasi ke generasi.

a)      Unsur – Unsur Kebudayaan
Kebudayaan setiap masyarakat tentu terdiri dari unsur-unsur tertentu, yang merupakan bagian dari suatu kebulatan, yakni kebudayan itu sendiri. Ada beberapa pendapat ahli tentang unsur – unsur kebudayaan.   
Clyde kluckhohn menyebutkan 7 unsur kebudayaan, yakni:
1.  Peralatan dan perlengkapan hidup manusia (pakaian, rumah, alat - alat rumah tangga, senjata, alat - alat rumah produksi dan transportasi). 
2. Mata pencarian hidup dan sistem - sistem ekonomi ( pertanian, peternakan, sistem produksi, dan sistem distribusi).
3.    Sistem kemasyarakatan (sistem kekerabatan, organisasi, politik, sistem hukum, dan sistem perkawinan).
4.      Bahasa (lisan maupun tertulis). 
5.      Kesenian (seni rupa, seni sastra dan seni gerak).         
6.      Sistem pengetahuan.     
7.      Sistem kepercayaan (religi).
b)      Karakteristik Kebudayaan
Secara umum kebudayaan memiliki beberapa karakteristik umum, karakteristik umum tersebut, yaitu :
1.     Kebudayaan adalah milik bersama        
Unsur kebudayaan/ide, nilai, pola merupakan sesuatu yang dijalankan bersama-sama oleh anggota masyarakat.        
Contohnya : gotong royong, musyawarah mufakat.      
2.     Kebudayaan merupakan hasil belajar    
Secara unsure hasil kebudayaan merupakan hasil dari belajar dan bukan warisan biologis (dibawa sejak lahir).        
3.     Kebudayaan didasari pada lambang      
Penggunaan lambing-lambang tertentu biasanya dilakukan ooleh manusia, kekuasaan dan ketaatan individu dibangkitkan juga oleh lambing tertentu.

Pada suatu daerah tertentu kebiasaan dapat mempengaruhi  masyarakat yang mana tinggal di daerah tersebut contoh masyarakat yang tinggal di dekat Taman Laut Nasional Bunaken Manado. Penyebabnya salah satunya, yaitu kondisi geografis. Kondisi geografis dari taman nasional Bunaken, yaitu  Pulau Bunaken termasuk dalam wilayah perairan “Segi Tiga Emas“. Lebih dari sekitar 3000-an spesies ikan berada di Bunaken.Wilayah “Segi Tiga Emas” adalah jalur perairan laut yang menghubungkan laut Filipina, laut Papua, dan laut Indonesia.

Taman Nasional Bunakenpun ditunjuk oleh Menteri Kehutanan sebagai taman nasional pada tahun 1991. Obyek wisata ini luas sekitar 89.065 hektare, berada di wilayah Kabupaten Minahasa, Kotamadya Manado, Sulawesi Utara. Di sebelah utara taman nasional, ada pulau Bunaken, Manado Tua, Montehage, Siladen, Nain, Nain Kecil, dan sebagian wilayah pesisir Tanjung Pisok. Sementara di bagian selatan, meliputi sebagian pesisir Tanjung Kelapa.

Lokasi ini merupakan perwakilan ekosistem perairan tropis Indonesia yang terdiri dari ekosistem hutan bakau, padang lamun, terumbu karang, dan ekosistem daratan atau pesisir. Pulau-pulau di dalamnya kaya akan flora dan fauna. Perairan Taman Nasional Bunaken memiliki 13 genera (genus) karang hidup yang didominasi oleh jenis terumbu karang tepi dan terumbu karang penghalang. Tercatat sekitar 91 jenis ikan yang hidup di perairan ini, diantaranya ikan kuda gusumi (Hippocampus kuda), oci putih (Seriola rivoliana), lolosi ekor kuning (Lutjanus kasmira), goropa (Ephinephelus spilotoceps dan Pseudanthias hypselosoma), ila gasi (Scolopsis bilineatus).


  •  Penduduk sekitar dan Budayanya
Perkembangan budaya yang terjadi di sekitar Taman Nasional Bunaken yang mana dimana masyarakat yang tinggal di sana. Penduduk Pulau bunaken umumnya merupakan keturunan dari sangihe dan Talaud keseharian mereka menggunakan Bahasa Sangir. Sebagian besar penduduknya beragama Kriste dan Sebagian kecil adalah beragama islam yang biasanya adalah penduduk yang berasal dari Bajo atau Gorontalo. Pulau Bunaken memiliki perkembangan sarana pendidikan hingga sekolah menengah pertama. Sebagian Besar masyarakat di Pulau Bunakane merupakan petani ,nelayan atau keduanya. Petani di kawasan ini menanam kelapa, ubi kayu, ubi jalar, dan pisang. Serta ada juga budidaya rumput laut, serta sebagian kecil penduduk yang tinggal di sana berkerja sebagai pemandu wisata, awak perahu dan pekerja di pondok pondok wisata. ( Sumber SBKSDA, 1996.).

Untuk dapat mengakses Pulau Bunaken yang terletak sekitar 7 mil dari Pelabuhan Manado yang dapat ditempuh 35 menit dari pusat kota dengan menggunakan kapal motor. Umumnya parawisatawan yang berkunjung ke Pulau Bunaken untuk melalukan wisata seperti menikmati taman laut dengan cara diving, snorkeling, berkeliling, serta naik perahu berkaca (katamaran).

Karena letak geografis tersebut Pulau bunaken hanya di jadikan sebagai tempat wisata karena keindahan bawah laut nya yang sudah terbukti. Serta karena letaknya tersebut juga masyarakat yang  tinggal di Pulau Bunaken hanya dapat melalukan kegiatan/budaya sehari hari dengan memancing dan bertani karena keterbatasan lahan.tetapi masyarakat yang tinggal di sana sangat senang  dengan melihat wisatawan yang pergi kenasan bukan hanya untuk menikmati keindahan lautnya tetapi juga memahami budaya tentang masyarakat yang tinggal di sana.


  •        Penduduk Sekitar dan Budayanya
Permukiman di Sekitar Taman Nasional Laut Bunaken
Penduduk lokal berasal dari tujuh kelompok etnik. Penduduk berasal dari suku yang berbeda-beda, di antaranya mayoritas berasal dari Sangihe. Suku lainnya berasal dari Gorontalo, Minahasa, Bajo, dan Bugis. Interakasi antar suku relatif tinggi sehingga friksi yang terjadi kemungkinan sangat rendah.
Melayu-Minahasa adalah bahasa penghubung (lingua franca) antar penduduk. Penduduk dapat memberikan akses sumber daya kepada nelayan dari kawasan luar.
Penduduk sering memberikan nama semua daerah yang dimanfaatkan oleh nelayan, seperti terumbu karang, teluk, ceruk, dan tanda alam lainnya.
Mata pencaharian penduduk bersifat musiman, pada musim hujan yaitu Bulan September-Desember melakukan kegiatan pertanian. Memasuki bulan kemarau pada Bulan Januari-Juli umumnya penduduk melaut. Sejumlah sekitar lebih dari 60% penduduk umumnya memiliki pekerjaan sebagai petani. Namun, tetaplah perikanan menjadi aktivitas utama penduduk, seperti pemanfaatan rumput laut (Euchema sp.) terutama di Pulau Nain.
Pemanfaatan wilayah wisata oleh penduduk lokalnya bergantung pada pola nafkah dan aspek sosialnya. Kepemilikan tanah di dalam kawasan bersifat tradisional dan belum memilki sertifikat resmi. Kalangan masyarakat lokal di sekitar kawasan tidak mengenal kepemilikan tradisional atau sistem tenure atas sumber daya atau habitat pesisir laut.
Pemanfaatan tanah untuk lahan kebun yang ekstensif terdapat di Pulau Manado Tua dan Bunaken, berupa kelapa, sayuran, dan tanaman pangan (sperti singkong dan umbi). Siklus pemanfaatan tanah di Pulau Siladen didominasi oleh lahan-lahan kebun kelapa. Pulau Mantehage ditanami tumbuhan kombinasi antara lahan kebun kelapa dan ladang.
Di Pulau Nain didominasi oleh kegiatan bertani rumput laut dan perikanan. Terdapat pula penangkapan ikan dan terumbu karang dengan praktik bubu, panah, jaring sederhana, dan pancing.
Penduduk lokal tersebar di lima pulau besar meliputi pulau yang dihuni oleh Suku Minahasa, Suku Sangir Talaud, dan Suku Bajau. Sebagian besar penduduk lokal menganut agama Kristen Protestan.
Kebudayaanya mayoritas di dominasi oleh Suku Talaud yang menyebut kepala dengan sebutan Opo lao. Adat tradisional suku Talaud yang masih terjaga hingga sekarang yaitu melakukan selamatan rumah baru dengan upacara Masamper.
Upacara ini dilakukan dengan cara menyanyi sambil menyentakkan kaki dengan syair lagu yang cukup panjang dan melakukan tari Ampa Wayer. Tarian ini meniru-niru pesawat terbang dan biasanya disertai dengan minum alkohol.
Selain itu, adat tradisional Minahasa yaitu Miramba berupa tarian yang memuja Tuhan atas kebaikan dan berkahnya. Kebudayaan penduduk sebagian besar dipengaruhi oleh budaya kota Manado, yaitu budaya Minahasa. Budaya adat tradisional Minahasa lainnya antara lain tari Maengket dan Cakalele yang sering digunakan pada acara resmi kenegaraan, menyambut tamu, dan pengukuhan kepala adatnya, yaitu Tonaas.

Sejarah Taman Nasional Bunaken
Taman Nasional Laut Bunaken dalam perkembangannya tidak berdiri secara langsung. Sejarah dari tahapan perkembangan Taman Nasional Bunaken berlangsung secara bertahap. Berikut ini runtutan sejarah terbentuknya Taman Nasional Laut Bunaken.Tahun 1975
Tahun 1975 mulai ditemukannya kawasan Taman Nasional Laut Bunaken. Keadaannya alamnya masih tenang dan damai memberi nuansa lain dari kehidupan hiruk pikuk kebisingan kota. Kawasan ini memiliki daya tarik tersendiri dengan keindahan alam yang sungguh memesona.
Tahun 1980
Tahun 1980 berdasarkan surat keputusan Gubernur No. 224 tahun 1980 kawasan Pulau Bunaken dan perairannya dijadikan pengembangan kawasan Wisata Laut Manado (Taman Laut Manado).
Tahun 1984
Tahun 1984 berdasarkan surat keputusan Gubernur No. 201 Tahun 1984 diadakan perluasan kawasan laut Wisata Manado yaitu ditambahkannya Arakan-wawontulap.
Tahun 1986
Tahun 1986 dikelauarkan surat Keputusan Menteri Kehutanan No. 328/Kpts-II/1986 tentang penetapan Cagar Alam Laut Bunaken Manado Tua yang mencakup Pulau Bunaken, Pulau Manado Tua serta perairan dan wilayah pesisir di sekitar Tanjung Pisok (sebelah Utara Teluk Manado).
Tahun 1989
Tahun 1989 pada tanggal 1 April dikeluarkan surat pernyataan Menteri Kehutanan No. 444/Menhut-II/1989 tentang penetapan kawasan Taman Nasional Laut Bunaken Manado Tua yang meliputi Pulau Bunaken, Pulau Manado Tua serta perairan dan pesisir di sekitar Tanjung Pisok dan sekitar Wilayah Pesisir Arakan-Wawontulap. Pada 15 Oktober 1981 dikeluarkan Surat Keputusan Resmi Kehutanan No. 730/Kpts-II/91 untuk mengukuhkan penetapan status Kawasan Taman Nasional Laut Bunaken Manado Tua. Taman Nasioanal Laut Bunaken telah ditetapkan sebagai kawasan Sister Parks (Kerjasama Indonesia-Malaysia).
Tahun 2005
Tahun 2005 Taman Nasioanal Laut Bunaken resmi menjadi warisan dunia yang ditetapkan oleh United Nations of Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO).

Sumber :
https://blackkboo.wordpress.com/2016/08/09/taman-nasional-bunaken/
https://foresteract.com/taman-nasional-bunaken/






Komputrasi Modern# Tugas Rangkuman

Sistem Pemecahan Dari Persamaan Linear (Solving Systems of Linear Equations) Introduction ( Pengantar ) Sistem pemecahan persamaan linier di...